 |
| Kesalahan Retorika: Teknik Menyelamatkan Diri |
Sebelum saya memulai artikel
kali, ini izinkan saya meminta maaf kepada Sdr Maxi-Sam karena di artikel terakhir itu (Kebohongan Menara Pengawal), saya sempat berkomentar yang
saya percaya salah, yaitu tidak
mengizinkan Sdr. Maxi memberikan komentarnya di blog ini. Saya tidaklah
marah atas argumen-argumen Sdr. Maxi, hanya terbawa rasa emosi; jengkel,
melihat argumen-argumennya yang menurut saya; tidak berdasarkan akal sehat atau logika, melainkan mengarah pada
debat kusir. Saya harus salut kepada Sdr. Maxi atas kepandaiannya merangsang rasa emosi saya. Saya persilahkan Sdr. Maxi membuat komentar-komentarnya
blog ini.
Perhatikan kutipan gambar di kiri atas yang berbunyi:
If you find yourself in an
indefensible position, just mention another issue and pretend it support your
conclusion.
Jika Anda mendapatkan diri Anda dalam posisi yang tidak dapat dipertahankan, cukup sebutkan masalah lain dan berpura-pura hal itu mendukung kesimpulan Anda.
Ya, kata-kata itu benar-benar menggambarkan bagaimana Sdr. Maxi yang berada di dalam posisi yang lemah mencoba membuat sebuah issue yang lain dan berpura-pura mendukung kesimpulannya. Tentunya apa yang saya katakan itu bukanlah hanya sebuah pernyataan kosong belaka. Tetapi di artikel ini saya akan buktikan bagaimana Sdr. Maxi menggunakan argumentasi Rhetorical Fallacy (Kesalahan Retorika)
untuk memenangkan argumentasinya di tengah-tengah kebingungan dan posisi lemahnya untuk menjawab
artikel-artikel saya yang sah berdasarkan logika. Ini tujuan pertama saya menulis artikel ini.