Keilahian Yesus Setara Allah Bapa: Maha Tahu

Doktrin Tritunggal: Membuktikan Keilahian Yesus
Kesetaraan Yesus Dengan Allah Bapa
Di dalam artikel seri bersambung 'Pemahaman Doktrin Allah Tritunggal' yaitu Ekonomis Dan Subordinasi Tritunggal, Apakah Itu? telah dijelaskan di dalam satu hakekat Allah yang esa terhadap 3 pribadi Ilahi yang mempunyai peran dan fungsinya masing-masing. Karena masing-masing pribadi memiliki peran dan fungsinya masing-masing maka ada sebuah Relasi Subordinasi Tritunggal, yaitu ajaran Alkitab yang menyatakan bahwa secara posisi Pribadi Yesus dan Roh Kudus memiliki kedudukan (ketundukan, subordinasi) yang lebih rendah dari Bapa, tetapi ini tidaklah berarti Pribadi Anak dan Roh Kudus lebih rendah secara natur atau substansi/hakekat. Sebaliknya, Trinitarian meyakini bahwa 3 Pribadi ilahi tersebut memiliki natur/hakekat yang sama yaitu Allah; maha hadir, maha tahu, sama kekal, sama kuasa yang merupakan kualitas attribute ilahi yang hanya dimiliki Allah saja. 

Nah, ketika Anda berdiskusi dengan Saksi Yehuwa, lalu mereka akan bertanya  "di mana kesetaraan Yesus dengan Bapa-Nya". Bagian ini akan membahas pertanyaan menarik ini. 

Pemahaman Hakekat

Sebelum membahas dengan detail akan 'kesetaraan keilahian' Yesus Kristus dengan Allah Bapa. Perlu kiranya saya ulas dulu pemahaman istilah kata 'hakekat atau natur' (bahasa Inggrisnya nature yang didefinisikan oleh Webster's New World Dictionary sebagai the essential quality of a thing yang saya artikan kualitas essensial dari sesuatu).

Nah, setiap makhluk hidup memiliki keunikan hakekatnya masing-masing. Misalnya, hakekat manusia berbeda dengan hakekat binatang, atau hakekat malaikat berbeda dengan manusia. Karena perbedaan hakekat itu, maka makhluk berhakekat binatang memiliki keterbatasan tertentu dibandingkan manusia. Atau makhluk berhakekat malaikat memiliki kemampuan yang berbeda dengan manusia. Mengapa demikian? Karena Allah menciptakan setiap makhluk berbeda hakekat!

Demikian juga dengan hakekat Allah sebagai pencipta alam semesta dan isinya tentunya berbeda dengan hakekat makhluk ciptaannya. Karena perbedaan hakekat, maka kualitas essensial yang dimiliki Allah tidak sama dengan ciptaannya.

Satu hal yang unik dengan 'hakekat' sebagai kualitas essensial dari suatu 'being' yaitu kualitas essensial dari suatu makhluk hanya dapat ditransfer melalui proses kelahiran, bukan berdasarkan proses ciptaan. Misalnya, manusia tidak menciptakan manusia, melainkan manusia — dalam hal ini adalah seorang ibu — melahirkan seorang manusia. Artinya apa yang dilahirkan memiliki hakekat yang sama dengan yang melahirkan. Jika manusia menciptakan sesuatu berarti apa yang dicipta itu, tidak sama dengan yang mencipta! Misalnya, manusia menciptakan mobil, maka mobil itu tidak memiliki hakekat yang sama dengan sang pencipta. Jadi ketika seorang ibu melahirkan seorang anak, maka sang anak memiliki kualitas hakekat yang sama dengan sang ibu. Sang ibu dapat berbicara, berpikir, bertubuh manusia dan lain-lain kualitas hakekat manusia, maka sang anak juga demikian (tentunya jika sang anak dilahirkan dalam kondisi yang normal).

Menarik, terjemahan TDB menyatakan bahwa Yesus sebagai Allah dilahirkan oleh Bapa di Yoh. 1:18:

Tidak seorang pun pernah melihat Allah; satu-satunya allah yang diperanakkan yang berada pada posisi dada Bapak, dia itulah yang menjelaskan mengenai dirinya.
Apakah artinya 'satu-satunya allah yang diperanakkan'? Ya, Yesus memiliki hakekat yang sama dengan Bapa-Nya yaitu Allah! Dengan demikian, kualitas hakekat Allah Bapa juga dimiliki oleh Yesus Kristus.

Tidak diragukan bahwa Allah memiliki kualitas hakekat 'ilahi'. Karena kualitas 'ilahi'-Nya ini maka tidak ada satu perkara pun yang mustahil bagi Allah untuk melakukan segala perkara (Luk. 1:37). Hakekat kualitas ilahi ini hanya dimiliki oleh suatu 'being' yang mengklaim dirinya sebagai Allah Abraham, Yakub dan Ishak.

Masalah keilahian Allah Bapa tidak diragukan lagi oleh orang Kristen. Tetapi keilahian Yesus Kristus? Hal ini menjadi perdebatan sepanjang sejarah kekristenan, dimulai dari Arius (klik Bapa Gereja untuk bahasannya). Dan penolakkan Arius akan keilahian Kristus dianut juga oleh Saksi-Saksi Yehuwa.

Nah, saatnya saya bahas kesetaraan hakekat keilahian Yesus dengan sang Allah Bapa. Apakah itu?

Kualitas Ilahi: Maha Tahu

Alkitab menyatakan bahwa Allah memiliki kualitas ilahi maha tahu karena mengetahui segala sesuatunya, termasuk isi hati manusia di beberapa ayat:

A. Ayub 37:16
Tahukah engkau tentang melayangnya awan-awan, tentang keajaiban-keajaiban dari Yang Mahatahu, (TB, LAI)

Apakah engkau mengetahui bagaimana awan melayang-layang, Karya yang menakjubkan dari Pribadi yang sempurna dalam pengetahuan? (TDB)

B. Ibrani 4:13

Penulis Surat Ibrani menyatakan bahwa tidak ada yang tersembunyi di hadapan-Nya. Di hadapan Allah segala sesuatu terbuka dan tidak tersembunyi yang artinya Allah mengetahui segala sesuatunya atau maha tahu.
Dan tidak ada ciptaan yang tidak nyata di hadapannya, tetapi segala sesuatu telanjang dan terbuka di mata dia yang kepadanya kita memberikan pertanggungjawaban

C. Yesaya 46:9-10

Ingatlah hal-hal yang dahulu dari sejak purbakala, bahwasanya Akulah Allah dan tidak ada yang lain, Akulah Allah dan tidak ada yang seperti Aku, yang memberitahukan dari mulanya hal yang kemudian dan dari zaman purbakala apa yang belum terlaksana, yang berkata: Keputusan-Ku akan sampai, dan segala kehendak-Ku akan Kulaksanakan
C. Kisah. 1:24

Jemaat mula-mula mengakui bahwa Allah Maha Tahu

Lalu mereka berdoa dan mengatakan, ”Engkau, oh, Yehuwa, yang mengetahui hati semua orang, tunjukkanlah yang mana dari kedua orang ini yang telah engkau pilih,

Lalu apakah Yesus Kristus memiliki kualitas ilahi 'mengetahui segala sesuatunya atau maha tahu' yang hanya dimiliki oleh Allah? Ya, Alkitab menyatakan demikian. Kita temukan di Yoh. 14:14: 
Jika kamu meminta apa pun dengan namaku, aku akan melakukannya. (NW)


Jika kamu meminta sesuatu kepada-Ku dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya. (LAI)


You may ask me for anything in my name, and I will do it. (NIV)


If you ask Me anything in My name, I will do it. (NASB)

Di sini Yesus mengatakan bahwa kita dapat meminta sesuatu kepada-Nya. Yesus mengundang kita untuk berdoa kepada-Nya; karena tentunya, ketika kita minta sesuatu kepada-Nya maka permohonana tersebut dalam bentuk doa, bukan? Karena kita berdoa kepada-Nya maka Yesus haruslah Maha Tahu apa yang menjadi pokok doa kita karena jika ada satu orang di Bandung berdoa kepada Yesus dan satu orang lainnya berdoa di Amerika, dan satu lagi di Africa, maka Yesus haruslah Maha Tahu agar Ia dapat mendengar doa-doa kita pada saat yang sama di tempat yang berbeda. 

Dan ada bukti lainnya yang menyatakan bahwa Yesus Maha Tahu di Yoh. 16:29-30 yang kita baca di mana murid-murid-Nya sendiri mengatakan bahwa Yesus mengetahui segala sesuatu sehingga tidak perlu seorang pun bertanya kepada-Nya:

Murid-muridnya mengatakan, ”Lihat! Sekarang engkau berbicara dengan terus terang, dan tidak menggunakan ibarat. Sekarang kami tahu bahwa engkau mengetahui segala sesuatu dan tidak seorang pun perlu bertanya kepadamu. Karena itu, kami percaya bahwa engkau datang dari Allah. (NW)

Dan kebenaran yang sama diulang kembali di Yoh. 21:17 ketika Yesus bertanya kepada Simon Petrus untuk ketiga kalinya seperti yang kita baca sebagai berikut: 

Ia mengatakan kepadanya untuk ketiga kalinya, ”Simon putra Yohanes, apakah engkau memiliki kasih sayang terhadap aku?” Petrus menjadi pedih hati karena ia mengatakan kepadanya untuk ketiga kalinya, ”Apakah engkau memiliki kasih sayang terhadap aku?” Maka ia mengatakan kepadanya, ”Tuan, engkau mengetahui segala sesuatu; engkau sadar bahwa aku memiliki kasih sayang terhadap engkau.” Yesus mengatakan kepadanya, ”Berilah makan domba-domba kecilku.”

Pembaca dapat melihat juga kualitas ilahi yang saya tulis di artikel Substansi atau Hakekat, & Pribadi Yesus Kristus di mana saya menghubungkan kemahatahuan Allah dengan kemampuan untuk mengampuni dosa dan Yesus memiliki kualitas Allah itu sehingga membuat ahli Taurat pun heran.

Suatu kali saya berdiskusi dengan seorang Saksi Yehuwa yang mengatakan jika Yesus mahatahu maka “HARUSNYA Yesus BISA menjawab pertanyaan yang diajukan oleh murid-muridnya yang dicatat dalam Kisah 1:6. Yesus juga HARUSNYA bisa mengabulkan permintaan ibu dari putra-putra Zebedeus di Mat. 20:20-21”. Alasan Saksi Yehuwa tersebut mengatakan bahwa Yesus tidak tahu berarti Ia tidaklah sehakekat dengan Bapa-Nya. 

Menjawab argumentasi itu, saya memiliki 2 alasan. Pertama, Saksi-Saksi Yehuwa memiliki pemikiran yang double standard. Menara Pengawal memiliki pemahaman tentang kemahakuasaan Allah Bapa saja, yaitu Saksi-Saksi Yehuwa sendiri percaya bahwa Allah Bapa “mengetahui sesuatu sebelumnya secara selektif” (selective foreknowledge), jadi Allah dapat memilih untuk tidak mengetahui segala perkara. 

Walaupun Saksi percaya bahwa Allah Bapa dapat tidak mengetahui segala perkara, tetapi hal ini tidak membuat Saksi Yehuwa meragukan bahwa Bapa itu bernatur Ilahi atau bukan. 

Nah, jika Yesus dapat tidak tahu tentang suatu perkara, hal ini seharusnya tidak menjadi masalah sama sekali, karena Saksi percaya bahwa Bapa juga dapat demikian. Jadi mengapa Yesus harus tahu sedangkan Bapa yang kata Saksi Yehuwa maha kuasa saja dapat memilih untuk tidak tahu? 

Kedua, untuk menjawab pertanyaan itu, lihat bahasannya di Pertanyaan Saksi Yehuwa: Keilahian Yesus 

Bagaimana dengan kualitas ilahi lainnya yang dimiliki oleh Yesus Kristus? Saya akan membahasnya kemudian.

Artikel terkait: Substansi atau Hakekat, & Pribadi Yesus Kristus


Janganlah percaya kepada para bangsawan, Ataupun kepada putra manusia, yang padanya tidak ada keselamatan. (Maz 146:3, TDB) 

2 comments :

  1. Yth. Bpk AWI,
    Perkenalkan, saya Eko di Jogja. Saat2 ini saya sedang berdebat dengan beberapa orang Saksi Yehuwa yang memang rutin ke kantor saya. Yang ingin saya tanyakan, apa maksud kalimat:

    Saksi-Saksi Yehuwa sendiri percaya bahwa Allah Bapa “mengetahui sesuatu sebelumnya secara selektif” (selective foreknowledge), jadi Allah dapat memilih untuk tidak mengetahui segala perkara.

    dalam tulisan Bapak di atas? Dapatkah Bapak memberikan contohnya? Terima kasih atas pencerahan dari Bpk. AWI. Tuhan Yesus memberkati.

    ReplyDelete
  2. Dear Sdr Eko

    Konsep SSY akan kemahatahuan Allah selalu dikaitkan dengan doktrin 'predestinasi' yang menurut MP tidak berdasarkan Alkitab.

    Secara prinsip SSY percaya Allah Yehuwa adalah mahakuasa dan di dalam kemahakuasaannya, Allah memilih untuk tidak untuk mengetahui hal-hal di muka (masa depan) secara selektif. Artinya ada hal-hal yang Allah pilih untuk tidak mengetahuinya dan ada hal-hal yg memang Allah mengetahuinya.

    Jadi sebetulnya ajaran MP membedakan kemampuan Allah dengan hakikat Allah. Umat Kristen percaya hakekat Allah adalah maha tahu, berbeda kemampuan Allah yang mana tentunya dengan hakekat-Nya.

    Jadi Sdr harus membedakan ini ketika berdiskusi dgn SSY.

    Contohnya sbb:

    Apakah Yudas Iskariot ditakdirkan untuk mengkhianati Yesus?

    Mz. 41:9: ”Orang yang rukun dengan aku, yang aku percayai, yang makan rotiku, telah menaikkan tumitnya terhadap aku.” (Perhatikan bahwa nubuat itu tidak menentukan sahabat karib Yesus yang mana kelak. Yehuwa tahu bahwa si Iblis telah menggunakan penasihat Daud bernama Ahitofel untuk mengkhianati dia, dan Ia membuat hal itu dicatat untuk menunjukkan bagaimana Iblis bekerja dan apa yang akan ia lakukan di masa depan. Bukan Allah tetapi ”Iblis [yang] menaruh dalam hati Yudas Iskariot, putra Simon, keinginan untuk mengkhianatinya [Yesus]”. [Yoh. 13:2] Yudas tidak menolak hal itu, tetapi menyerah kepada pengaruh yang jahat.)
    Yoh. 6:64: ”Sejak semula Yesus tahu . . . siapa yang akan mengkhianatinya.” (Bukan dari awal mula penciptaan, ataupun dari saat Yudas dilahirkan, tetapi ”sejak semula” ketika ia mulai berkhianat. Bandingkan Kejadian 1:1, Lukas 1:2, dan 1 Yohanes 2:7, 13, yang masing-masing menggunakan kata ’mula’ dalam arti relatif. Perhatikan juga Yohanes 12:4-6.)


    Contoh ke-2
    Ketika Allah menciptakan Adam, apakah Ia tahu bahwa Adam akan berdosa?
    Berikut inilah apa yang Allah taruh di hadapan Adam dan Hawa, ”Beranakcuculah dan bertambah banyak dan penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, tundukkanlah ikan-ikan di laut dan makhluk-makhluk terbang di langit dan segala makhluk hidup yang merayap di bumi.” ”Allah Yehuwa juga memberikan perintah ini kepada manusia itu, ’Setiap pohon di taman ini boleh kaumakan buahnya sampai puas. Tetapi mengenai pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat, engkau tidak boleh memakan buahnya, karena pada hari engkau memakannya, engkau pasti akan mati.’” (Kej. 1:28; 2:16, 17) Apakah Saudara akan menganjurkan anak-anak Saudara untuk melaksanakan suatu proyek yang mempunyai masa depan yang menakjubkan, jika Saudara tahu sejak awal bahwa hal itu pasti akan gagal? Apakah Saudara akan memperingatkan mereka terhadap kerugiannya jika Saudara tahu bahwa Saudara sudah merencanakan agar segala sesuatu berakhir dengan menyedihkan? Jadi, apakah masuk akal untuk mengatakan hal itu tentang Allah?
    Mat. 7:11: ”Jika kamu, meskipun fasik, tahu bagaimana memberikan pemberian yang baik kepada anak-anakmu, betapa terlebih lagi Bapakmu yang di surga akan memberikan hal-hal yang baik kepada mereka yang meminta kepadanya!”
    Jika Allah sudah menakdirkan dan mengetahui sebelumnya dosa Adam dan semua yang akan diakibatkan oleh hal ini, berarti dengan menciptakan Adam, Allah dengan sengaja menggerakkan semua kefasikan yang dilakukan dalam sejarah manusia. Berarti Ia akan menjadi Sumber semua peperangan, kejahatan, perbuatan amoral, penindasan, dusta, kemunafikan, penyakit. Namun, Alkitab dengan jelas mengatakan, ”Engkau bukanlah Allah yang senang akan kefasikan.” (Mz. 5:4) ”Jiwa-Nya pasti membenci siapa pun yang mengasihi kekerasan.” (Mz. 11:5) ”Allah . . . tidak dapat berdusta.” (Tit. 1:2) ”Ia [Pribadi yang ditunjuk oleh Allah sebagai Raja Mesianik] akan menebus jiwa mereka dari penindasan dan tindak kekerasan, dan darah mereka berharga di matanya.” (Mz. 72:14) ”Allah adalah kasih.” (1 Yoh. 4:8) ”Ia adalah pencinta keadilbenaran dan keadilan.”—Mz. 33:5.


    Diambil dari 'Bertukar Pikiran' hlm. 373-375

    Semoga membantu Sdr ya.

    ReplyDelete

Tolong SEBUTKAN Nama Atau Initial Anda saat memberi komentar agar memudahkan Mitra diskusi Anda mengidentifikasikan Anda.

Non Kristiani, mohon tidak memberi komentar.

Jika Anda ingin komentar, silahkan klik DI SINI DULU

.