KESELAMATAN KRISTEN: Anugerah, Iman Dan Perbuatan

Keselamatan Melalui Iman atau Perbuatan
Anugerah, Iman Dan Perbuatan
DISELAMATKAN HANYA oleh karena anugerah Allah melalui iman kepada Yesus saja merupakan satu-satunya doktrin yang unik dari kepercayaan Kristen dibandingkan dengan sistem keyakinan lainnya yang mengajarkan keselamatan kekal seseorang diperoleh karena melakukan perbuatan baik. Bapa-bapa reformasi, seperti Martin Luther dan John Calvin mengumandangkan istilah ‘sola fide atau hanya oleh iman saja’ untuk doktrin ini.

Konsep keselamatan manusia diperoleh melalui iman kepada Yesus Kristus mengajarkan bahwa keselamatan manusia tidak ditentukan oleh kemampuan seseorang melakukan perbuatan baik yang berupa kebenaran, kesucian dan kebajikannya sendiri, melainkan keselamatan itu merupakan anugerah atau kasih karunia Allah semata. Karena anugerah Allah semata, maka manusia tidak dapat bermegah atau membanggakan diri ketika diselamatkan. Kita lihat beberapa ayat yang ditulis oleh rasul Paulus begitu kental akan pengajaran ini:
Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri. Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.(Ef. 2:8-10, TB)

Sesungguhnya, oleh kebaikan hati yang tidak selayaknya diperoleh ini, kamu telah diselamatkan melalui iman; dan ini bukan karena upayamu, ini adalah pemberian Allah. Tidak, ini bukan hasil perbuatanmu, agar tidak seorang pun mempunyai dasar untuk bermegah. Karena kita adalah hasil pekerjaannya dan diciptakan dalam persatuan dengan Kristus Yesus untuk melakukan perbuatan baik, yang Allah persiapkan di muka agar kita berjalan di dalamnya. (TDB/NW)
Lebih lanjut, Paulus mengajarkan bahwa keselamatan bukanlah ‘hasil upah’ dari perbuatan baik yang kita lakukan, melainkan ‘karunia atau rahmat’ dari Allah di dalam Titus 3:5-6:
Pada waktu itu Dia telah menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmat-Nya oleh permandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus, yang sudah dilimpahkan-Nya kepada kita oleh Yesus Kristus, Juruselamat kita, supaya kita, sebagai orang yang dibenarkan oleh kasih karunia-Nya, berhak menerima hidup yang kekal, sesuai dengan pengharapan kita. (TB)
Melalui ayat ini rasul Paulus mengajarkan bahwa Allah telah menyelamatkan kita bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan. Kita tidak dapat membayar dosa dengan perbuatan-perbuatan kebajikan dan kebenaran kita sendiri karena sesungguhnya kita tidak akan pernah dapat memenuhi standard kebajikan, kebenaran dan kesucian yang ditetapkan Allah. Jelas pada dasarnya, kita sebagai manusia bukanlah orang suci, benar dan baik.

Keselamatan kita peroleh karena belas kasihan dan anugerah atau rahmat-Nya semata yang dilimpahkan oleh Yesus Kristus melalui karya Allah Roh Kudus yang melahirkan kembali dan membaharui orang percaya sehingga berhak menerima hidup kekal. Karya Allah Roh Kudus lah yang memeteraikan keselamatan bagi orang-orang percaya kepada Kristus sehingga mereka memiliki jaminan akan semua yang disediakan untuknya; tentunya termasuk keselamatan kekal (Bandingkan 2 Kor. 1:20-21, Efesus 1:13-14).

Mengapa hanya anugerah atau rahmat-Nya yang mampu menyelamatkan kita? Alkitab mengatakan “Kuduslah kamu, sebab Aku Kudus” (1 Pet. 1:16). Tuhan menuntut kekudusan dan kesempurnaan jika kita ingin masuk ke kota suci nan indah, yaitu sorga dan memandang wajah-Nya. Kita adalah manusia yang memiliki sifat natur dosa di dalam dirinya (dibahas di bawah tentang dosa asal) dan dosa perbuatan yaitu pastinya kita pernah bahkan sering melakukan pelanggaran dan dosa dalam hidup kita. Maka dengan demikian, kita sudah kehilangan kekudusan dan kesempurnaan itu. Yakobus menuliskan di dalam suratnya, yaitu Yakobus 2:10: “Sebab barangsiapa menuruti seluruh hukum itu, tetapi mengabaikan satu bagian dari padanya, ia bersalah terhadap seluruhnya.” Artinya jika seseorang mencoba menuruti seluruh hukum Taurat, tetapi mengabaikan yang terkecil yaitu satu bagian saja, maka ia dinilai bersalah secara keseluruhannya; tidak sempurna. Oleh sebab itu, satu-satunya cara untuk selamat hanya anugerah yang diberikan Allah saja, tidak ada cara yang lain.

Kesimpulan apakah yang kita peroleh dari 2 ayat tersebut? Kedua ayat tersebut menjelaskan keselamatan sepenuhnya karya Allah dan manusia tidak memiliki andil apapun – termasuk melakukan satu perbuatan baik ataupun semulia apapun – untuk mendapatkannya dengan demikian tidak boleh manusia bermegah diri ketika diselamatkan. Demikian juga dilahirkan kembali oleh Roh Kudus berarti kita sebagai orang percaya memiliki jaminan akan semua janji-janji yang disediakan Allah bagi kita karena Roh Kudus sendirilah yang memeteraikannya. Bagaimana jika seseorang tidak dilahirkan kembali? Salah satu akibatnya adalah semua janji-janji Allah tidak terjamin sehingga keselamatannya menjadi suatu harapan belaka; tidak pasti, mudah-mudahan. Oleh karena itu, sebagai orang percaya kepada Tuhan Yesus Kristus dapat berkata bahwa kita pasti selamat.

Natur Manusia Atas Dosa

Ketika Adam dan Hawa di tempatkan di taman Eden, mereka gagal menaati Allah sehingga akhirnya mereka jatuh ke dalam dosa (Kej 3:1-14). Sebenarnya ketika dicipta oleh Allah, Adam dan Hawa memiliki kehendak bebas untuk memilih; menaati Allah atau menolak-Nya (Kej 2:15-17). Jika mereka menaati perintah Allah maka mereka memperoleh hidup kekal, tetapi sebaliknya jika mereka gagal, mereka akan mati (Kej 2:17). Sayangnya, Adam dan Hawa memilih untuk tidak taat kepada Allah tetapi taat kepada Iblis. Akibat ketidak-taatannya itu, mereka telah berdosa.

Karena Adam dan Hawa merupakan manusia pertama di dunia saat itu, maka mereka adalah perwakilan manusia yang ada di dunia ini. Kejatuhan mereka ke dalam dosa telah menurunkan sifat dosa kepada keturunan-keturunannya (Roma 5:12). Oleh karena itu, seluruh keturunan Adam dan Hawa memiliki natur dosa di dalam dirinya secara alamiah. Dosa yang diturunkan oleh Adam dan Hawa ini disebut sebagai “dosa asal.” Sebagai akibatnya, manusia tidak lagi memiliki kehendak bebas seperti yang dimiliki Adam dan Hawa sebelum kejatuhannya ke dalam dosa. Dengan demikian manusia hanya memiliki satu pilihan yaitu kecenderungan hatinya memilih untuk berbuat dosa. Itulah sebabnya Alkitab berkata:
Ketika dilihat TUHAN bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata, . . .(Kej 6:5)

Sejak lahir orang-orang fasik telah menyimpang, sejak dari kandungan pendusta-pendusta telah sesat (Maz 58:4)
Demikian juga rasul Paulus berkata:
Tidak ada yang benar seorang pun tidak, Tidak ada seorang pun yang berakal budi, tidak ada seorang pun yang mencari Allah, Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna, tidak ada yang berbuat baik, seorang pun tidak (Roma 3:10-12, TB).
Tentunya kita bertanya, apakah benar bahwa manusia tidak bisa berbuat baik dan mulia? Tidak bisakah seseorang, pada waktu melihat orang yang menderita, lalu menolongnya tanpa pamrih? Tentu bisa! Bukankah hal iut bisa disebut sebagai ”perbuatan baik dan mulia”? Jika dinilai dari sudut pandangan manusia, maka jawabannya adalah ”ya!” Tetapi dalam penilaian Allah, adalah ”tidak!” Mengapa? Karena dalam penilaian Allah, suatu perbuatan baik jika tidak dilakukan dengan iman, tetap adalah najis! Oleh sebab itu, supaya suatu perbuatan bisa disebut baik dan mulia, seseorang harus memiliki iman kepada Kristus.
Bagi orang suci semuanya suci; tetapi bagi orang najis dan orang tidak beriman suatupun tidak ada yang suci, karena baik akal maupun suara hati mereka najis. (Titus 1:15)
Demikian juga kitab Yesaya mengatakan bahwa segala kesalehan yang diperbuat manusia tetap adalah kain kotor
Demikianlah kami sekalian seperti seorang najis dan segala kesalehan kami seperti kain kotor; kami sekalian menjadi layu seperti daun dan kami lenyap oleh kejahatan kami seperti daun dilenyapkan oleh angin. (Yes. 64:6)
Jadi manusia bisa saja berbuat baik tanpa pamrih dan tulus, tetapi dalam penilaian Allah, jika dilakukan tanpa iman kepada Kristus; tetap najis. Perhatikan juga ayat berikut ini yang membuktikan bahwa melakukan hukum Taurat atau perbuatan baik tidaklah beroleh pembenaran, melainkan hanya oleh karena iman dalam Kristus Yesus:
Kamu tahu, bahwa tidak seorangpun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya oleh karena iman dalam Kristus Yesus (Gal 2:16a)
Contoh-Contoh Kasus

Sekarang kita lihat 3 contoh bagaimana kuasa dosa yang berada di dalam diri manusia menguasainya dan manusia tidak mampu menguasai sifat kedagingan yang ada di dalam dirinya. Contoh pertama adalah rasul Paulus di Roma 7:14-25 yang menceritakan pergumulan dirinya dengan kuasa dosa yang ada di dalam dirinya ketika belum menjadi orang percaya yaitu ketika ia menghendaki melakukan apa yang baik tetapi ternyata bukan yang baik dikerjakannya, sebaliknya, yang jahatlah yang diperbuatnya. Paulus tidak mampu melawan keinginan dagingnya yang terjual di bawah kuasa dosa sehingga ia mengeluh, “Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?“. Lalu apakah ucapan syukur Paulus setelah dibebaskan kuasa dosa yang ada di dalam dirinya? “Syukur kepada Allah! oleh Yesus Kristus, Tuhan kita“. Dengan demikian, ini membuktikan bahwa manusia tidak dapat mencapai pembenaran dan pengudusan dengan usaha sendiri melawan dosa dan menaati hukum Allah. Sebaliknya, pergumulan yang dialami oleh orang Kristen berbeda sekali yaitu pergumulan dari orang yang hidup dan dipimpin oleh Roh Kudus melawan kuasa dosa (bd. Gal 5:16-18).

Dan contoh keduanya dapat kita lihat Matius 19:16-26, seorang kaya bertanya kepada Yesus: ”Guru, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup kekal?” Dan Yesus menjawab bahwa ia harus mematuhi semua perintah Allah, yaitu 10 hukum Taurat. Lalu orang itu mengatakan bahwa ia sudah melakukan banyak hukum Taurat yang bersifat hubungan horizontal dengan sesama. Tetapi ketika Tuhan Yesus meminta menjual hartanya dan mengikuti-Nya, orang itu menolaknya karena memiliki kelemahan daging – natur dari manusia yang dikuasai oleh dosa – yaitu cinta harta. Dari cerita ini kita belajar bahwa seseorang dapat berbuat baik bagi sesamanya, tetapi karena natur manusia sudah dikuasai dosa sehingga memiliki kelemahan daging maka ia tidak mampu menaklukkan kelemahannya sendiri. Dengan demikian, tidak ada seorang manusia pun yang sanggup mematuhi seluruh tuntutan hukum Allah.

Dan kita lihat reaksi murid-murid-Nya yang menyaksikan betapa sukarnya seseorang untuk selamat dengan bertanya: ”Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?” Kita perhatikan jawaban Yesus: ”Bagi manusia hal ini tidak mungkin, tetapi bagi Allah segala sesuatu mungkin.” (ayat 26) Apakah artinya? Untuk beroleh selamat dengan segala upaya yang dilakukan oleh manusia, tidaklah mungkin dapat selamat. Namun demikian, dengan rencana Allah yang disediakan melalui iman kepada Anak Tunggal-Nya maka keselamatan menjadi mungkin. Itulah mengapa Efesus 2:8 mengatakan bahwa hanya karena kasih karunia kita diselamatkan oleh iman. Roma 3:20,28 dan Galatia 2:16 memberitahukan kita bahwa tidak ada seorang pun yang dibenarkan di hadapan Allah melalui Hukum Taurat; Hukum Taurat menunjukkan perbuatan yang dapat dilakukan oleh manusia.

Contoh ketiga adalah tentang Abraham yang dibenarkan oleh Allah bukan berdasarkan perbuatannya:
Jadi apakah akan kita katakan tentang Abraham, bapa leluhur jasmani kita? Sebab jikalau Abraham dibenarkan karena perbuatannya, maka ia beroleh dasar untuk bermegah, tetapi tidak di hadapan Allah. Sebab apakah dikatakan nas Kitab Suci? “Lalu percayalah Abraham kepada Tuhan, dan Tuhan memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.” Kalau ada orang yang bekerja, upahnya tidak diperhitungkan sebagai hadiah, tetapi sebagai haknya. Tetapi kalau ada orang yang tidak bekerja, namun percaya kepada Dia yang membenarkan orang durhaka, imannya diperhitungkan menjadi kebenaran (Romans 4:1-5)
Hubungan Allah dengan Abraham begitu intim sehingga disebut ia sebagai sahabat Allah. Tentunya ia dapat bermegah dan menyombongkan diri di hadapan teman-temannya dan semua orang yang ia kenal di zamannya akan hubungannya yang spesial dengan Allah dan ketaatannya. Namun demikian, Paulus mengatakan ”tidak di hadapan Allah”. Mengapa? Allah mengenal betul kehidupannya secara intim; berupa kelemahan, pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosanya. Misalnya sifat kedagingan Abraham yang di ceritakan Kejadian 12 yaitu berbohong kepada Firaun tentang Sara, istrinya. Dan kebohongan yang sama beberapa pasal kemudian kepada Abimelekh. Perhatikan, bahkan Abraham, tokoh terbesar ini pun tidak dapat berkenan di hadapan Allah dengan kebenaran dan usahanya sendiri.

Perbuatan Baik Sebagai Bukti Keselamatan

Setelah membaca penjelasan di atas, maka timbul pertanyaan, jika keselamatan itu murni karya Allah, apakah peranan perbuatan baik dalam kehidupan orang Kristen? Kenapa orang percaya diperintahkan untuk melakukan perbuatan baik? Mengapa ada beberapa ayat seolah-olah mengajarkan iman saja tidak cukup untuk beroleh selamat sehingga dibutuhkan tambahan ”perbuatan baik” untuk beroleh selamat?

Perhatikan kembali Efesus 2:8-9 dimana Paulus menegaskan bahwa keselamatan itu sepenuhnya karya Allah. Tetapi dalam Efesus 2:10 ia menjelaskan lebih lanjut, “Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.”  Apa maksud ayat itu? Ini menegaskan bahwa setiap orang yang diciptakan (diselamatkan) dalam Kristus harus melakukan pekerjaan baik dan harus berusaha hidup di dalamnya. Jika diandaikan sebuah pohon maka anugerah Allah adalah akarnya sedangkan perbuatan baik adalah buah-buahnya. Akar yang sehat dan baik tentunya menjadikan pohon itu kuat dan sehat sehingga dapat menghasilkan buah-buah yang baik pula. Buah-buah pohon yang baik merupakan bukti akar pohon itu sehat dan tentunya buah tidak memengaruhi kondisi akar pohonnya. Sebaliknya, akar pohon lah yang memengaruhi buah-buahnya.

Demikian juga dengan keselamatan dan perbuatan. Setelah seseorang diselamatkan maka ia harus melakukan perbuatan baik dan harus menjadi bagian dari kehidupannya, tetapi perbuatan baiknya itu bukan untuk menyelamatkannya tetapi sebagai bukti bahwa ia sungguh-sungguh percaya pada Yesus

Apakah ada bukti di dalam Alkitab di mana orang yang percaya kepada Kristus tanpa melakukan perbuatan baik tetapi diselamatkan? Ya, ada. Lukas 23:33-43 menceritakan penyamun di sebelah Kristus percaya kepada-Nya dan dijanjikan hidup kekal. Tentunya penjahat itu tidak sempat berbuat satu kebaikan, bukan? Namun demikian, keselamatan diperolehnya. Ini membuktikan bahwa keselamatan berdasarkan anugerah Allah semata tanpa perbuatan baik.

Doktrin Keselamatan Menara Pengawal

Prinsip doktrin keselamatan Menara Pengawal mengajarkan bahwa di luar organisasi Menara Pengawal tidak ada keselamatan. Tentunya ketika Saksi Yehuwa diperhadapkan dengan ajaran bidat ini menolaknya karena ia tidak menyadari Menara Pengawal mengajarkannya demikian. Bagi Saksi Yehuwa, pengajaran yang diterimanya adalah doktrin iman ditambah dengan perbuatan karena percaya kepada Yesus saja tidak cukup. Kita lihat pernyataan Sdr. Maxi-Sam, seorang pembaca blog ini yang menolak doktrin sola fide:
Apkh itu berarti ‘hanya’ atau cukup percaya Yesus saja maka OTOMATIS saya pasti selamat? Bukankah Alkitab juga mengajarkan bahwa ‘iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati’ (Yakobus 2 : 26, LAI); bahwa utk selamat seseorang harus ‘bertahan sampai pada kesudahannya’ (Matius 24 : 13, LAI); bahwa seseorang harus ‘berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu’ (Lukas 13 : 24, LAI); bahwa seseorang harus ‘tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar’ (Filipi 2 : 12, LAI). Salahkah kalau saya menyimpulkan berdasarkan ayat2 itu maupun ayat2 lainnya bahwa utk diselamatkan seseorang TIDAK CUKUP dg HANYA percaya Yesus saja? (klik di sini untuk membaca komentarnya)
Menurut Sdr. Maxi, percaya kepada Yesus Kristus saja tidak cukup untuk beroleh selamat karena ada bagian-bagian Alkitab yang mengajarkan bahwa ‘iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati’ (Yakobus 2 : 26, LAI); bahwa untuk selamat seseorang harus ‘bertahan sampai pada kesudahannya’ (Matius 24 : 13, LAI); bahwa seseorang harus ‘berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu’ (Lukas 13 : 24, LAI); bahwa seseorang harus ‘tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar’ (Filipi 2 : 12, LAI). Menurut beliau 4 ayat-ayat tersebut mengajarkan iman ditambah dengan perbuatan untuk selamat.

Saya pernah menanyakan kepada Saksi Yehuwa jika saya hanya percaya kepada Kristus tidak cukup untuk menyelamatkan saya, baik dosa asal dan perbuatan; lalu perbuatan baik yang bagaimana yang harus saya kerjakan untuk melengkapi keselamatan saya? Berapa % karya keselamatan yang Yesus sudah kerjakan dalam rangka menebus dosa saya dan berapa % lagi yang harus saya kerjakan agar boleh selamat? Mungkinkah saya yang memiliki kecenderungan berbuat dosa (natur dosa) mampu melakukan suatu perbuatan baik melampaui dosa-dosa yang saya telah buat? Sampai detik ini, Saksi Yehuwa itu belum mampu memberikan jawabannya. 

Alkitab mengatakan bahwa Kristus sudah mati sekali untuk segala dosa kita (1 Pet. 3:18 dan bandingkan juga dengan 1Yoh. 2:2 dan 1Yoh. 2:2). Ya, Kristus sudah mati untuk segala dosa kita artinya seluruh dosa-dosa kita, tidak ada dosa yang tidak ditebus dan diampuni-Nya (kecuali menghujat Roh Kudus). Nah, jika segala dosa kita sudah diampuni dan ditebus, lalu perbuatan baik apalagi yang saya harus kerjakan untuk melengkapi keselamatan saya? Tidak ada!!

Lagi pula Alkitab menggunakan istilah “kasih karunia, kebaikan hati atau anugerah“ Allah dalam memberikan keselamatan (Ef. 2:8) Bagaimana bisa disebut “keselamatan anugerah“ Allah jika manusia juga harus menambahnya dengan perbuatan baik, bukan?

Lalu bagaimana dengan bukti-bukti Alkitab yaitu Yakobus 2 : 26 dan Filipi 2 : 12 yang seolah-olah mengajarkan iman kepada Yesus saja tidak cukup untuk beroleh selamat sehingga perlu ditambah dengan perbuatan? Saya akan membahasnya dalam artikel Keselamatan: Hubungan Iman Dan Perbuatan

Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri (Efesus 2:8)

Artikel Terkait:
1. Membedakan Agama Kristen Palsu Dengan Yang Sejati, Bagaimana?
2. Saksi Yehuwa: Suatu Kultus Atau Rohaniwan Allah?
3. Apakah Tujuan Saksi Yehuwa Menginjil Dari Rumah Ke Rumah?
4. Saksi Yehuwa: Percaya Yesus, Allah Dan Alkitab?

2 comments :

  1. Untuk kasus SSY:
    imannya pada bp lmp.
    Perbuatannya: menolak transfusi, menyebarkan ajaran sesat, memfitnah susunan kristen menyembunyikan YHWH, mengajarkan tiang siksa, kucil-mengucilkan, memboikot natal paskah pentakosta, antisosial, menyuruh anaknya tidak usah sekolah tinggi2, dll.

    Dipastikan tidak selamat.

    Pemuka agama yahudi zaman Yesus:
    Imannya kpd isi hukum taurat scr hurufiah.
    Perbuatannya: taat beribadah, taat berpuasa, taat mengisi persembahan, taat memberi korban bakaran, mencintai keluarganya sendiri, dll. Dipastikan tidak selamat karena bersungut-sungut pada Yesus. Malah menyalahkan Yesus telah melanggar hk sabat, dll.

    Contoh yg benar:
    Zakheus: beriman pada Yesus.
    Perbuatannya: sbg balasan atas kurnia yg diterimanya, berhenti memeras orang, mengembalikan uang yg diperas sekian kali lipat. Memulai hidup baru sesuai ajaran Yesus saat dirumahnya maupun yg didengarnya dari para rasul.

    Maria magdalena: beriman pada Yesus.
    Perbuatannya: menyembah di kaki Yesus, meminyaki kaki Yesus, mengusapnya dengan rambut, mengikuti Yesus dg setia, menziarahi makam Yesus.

    Pemikiran manusia: akan otomatis selamat jika sudah berbuat baik.
    Sayang..., pemikiran Allah: manusia harus beriman dulu pada Yesus, maka akan dianugerahi keselamatan. Jika orang mengimani Yesus maka orang akan mengikuti apa saja firmanNya.

    Salam
    AS

    ReplyDelete
  2. Iman dan pengharapan.
    Ketika seseorang tidak memiliki pengharapan, imannya tidak akan muncul. Saat ada harapan, akan tumbuh iman.

    Misal ketika seseorang jatuh ke jurang yang dalam, berhasil bergelantungan pada sebatang tanaman liar. Jika orang itu tidak berharap apa2, maka tangannya akan cepat lelah dan genggamannya akan lepas dan ia jatuh serta mati. Tapi jika ia berharap akan ada orang yg bisa melihatnya, ia akan memiliki kekuatan untuk berteriak minta tolong dan semua sisa tenaga akan dikerahkan.
    Jika harapannya sedikit terwujud, memang ada orang yg melihatnya, maka ia akan semakin tegar berusaha lebih maksimal lagi. Imannya sudah mulai muncul. Apapun hasil akhirnya, pengharapan dan iman berkorelasi.

    Demikian pula zakheus dan maria magdalena yg semula hopeless, ketika ada kesempatan berjumpa dg satu2nya harapan, yaitu Yesus, tumbuhlah imannya dan bergegas berusaha menjumpaiNya. Hal yg tidak akan terjadi jika mereka bertemu pemuka agama yahudi, mereka tidak berharap apa2, dg demikian tidak ada keyakinan sedikitpun tokoh agama itu akan menerima mereka seperti Yesus menerima mereka.

    Salam
    AS

    ReplyDelete

Tolong SEBUTKAN Nama Atau Initial Anda saat memberi komentar agar memudahkan Mitra diskusi Anda mengidentifikasikan Anda.

Non Kristiani, mohon tidak memberi komentar.

Jika Anda ingin komentar, silahkan klik DI SINI DULU

.