Tritunggal Ontologis, Apakah Itu?

Illustrasi Doktrin Tritunggal
Di bagian Bapa Gereja Purba & Ajaran Bidat telah dibahas tentang ajaran-ajaran bidat utama yang ada di dalam sejarah Kristen. Salah satunya adalah ajaran Arius (dikenal sebagai Arianisme) yang berkembang pada abad ke empat tentang Yesus Kristus yang begitu sama dengan ajaran Menara Pengawal yaitu menolak keilahian Yesus. Ajaran Arianisme ini pada akhirnya ditolak oleh Konsili Nicea.  


Nah, mengawali diskusi saya kali ini saya ingin memberikan suatu diskusi yang menarik antara saya dengan seorang Penatua Saksi-Saksi Yehuwa sebagai berikut.


Suatu hari saya diberikan sebuah brosur 'Haruskah Anda Percaya Kepada Tritunggal' oleh seorang Penatua Saksi-Saksi Yehuwa. Beliau mencoba membuktikan kepada saya bahwa doktrin Tritunggal tidaklah diajarkan Alkitab dengan menunjukkan  bagian-bagian dari brosur tersebut. Misalnya halaman 5 brosur itu mencatat:

SEBUAH publikasi Protestan berkata, ”Kata Tritunggal tidak terdapat dalam Alkitab . . . Ia baru mendapat tempat secara resmi dalam teologi gereja pada abad ke-4.” (The Illustrated Bible Dictionary)
Penatua itu berkata, "Lihat istilah kata Tritunggal saja tidak ada di dalam Alkitab, bagaimana doktrin Tritunggal dapat menjadi ajaran gereja? Faktanya ajaran Tritunggal baru mendapat tempat secara resmi dalam teologi gereja abad-4, dengan demikian ajaran ini bukanlah ajaran Kristen yang mula-mula. Jelas ajaran Tritunggal merupakan ajaran yang disisipkan kemudian." 

Lalu beliau membuka halaman 6 untuk membuktikan lebih lanjut bahwa ajaran Tritunggal tidak diajarkan di dalam Perjanjian Baru, kutipannya sebagai berikut:
MAKA, apakah Kitab-Kitab Yunani Kristen (”Perjanjian Baru”) dengan jelas berbicara tentang suatu Tritunggal?


The Encyclopedia of Religion mengatakan, ”Para teolog setuju bahwa Perjanjian Baru juga tidak memuat doktrin yang jelas mengenai Tritunggal.”


Imam Yesuit Fortman mengatakan, ”Para penulis Perjanjian Baru . . . tidak memberi kita doktrin Tritunggal yang resmi atau dirumuskan, juga tidak ajaran yang jelas bahwa dalam satu Allah terdapat tiga pribadi ilahi yang setara. . . . Di mana pun kita tidak menemukan doktrin tritunggal dari tiga subyek kehidupan dan kegiatan ilahi yang berbeda dalam Keilahian yang sama.”


The New Encyclopedia Britannica menyatakan, ”Kata Tritunggal atau doktrinnya yang jelas tidak terdapat dalam Perjanjian Baru.”


Bernhard Lohse mengatakan dalam A Short History of Christian Doctrine, ”Sejauh itu menyangkut Perjanjian Baru, seseorang tidak menemukan di dalamnya doktrin Tritunggal yang aktual.”


The New International Dictionary of New Testament Theology juga mengatakan, ”P[erjanjian] B[aru] tidak memuat doktrin Tritunggal yang diperkembangkan. ’Alkitab tidak memuat deklarasi yang terus terang bahwa Bapa, Anak dan Roh Kudus adalah dari zat yang sama’ [kata teolog Protestan Karl Barth].”
Penatua itu berkata lagi, "Bahkan para teolog-teolog Trinitarian seperti Fortman (Katolik) dan Bernhard Lohse mengakui dengan jujur bahwa ajaran Tritunggal tidak memuat dengan jelas. Bagaimana Sdr. bisa mempercayainya ketika para ahli pun mengakui bahwa ajaran Tritunggal memang tidak diajarkan Alkitab."

Lebih lanjut beliau mengatakan, "Bagaimana Yesus adalah Allah ketika Ia memiliki kedudukan yang lebih rendah dari Allah? Lalu ia menunjukkan halaman 17 dari brosur itu:
BERULANG kali, Yesus memberikan pernyataan-pernyataan seperti: “Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diriNya sendiri, jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya.” (Yohanes 5:19) “Aku telah turun dari sorga bukan untuk melakukan kehendakKu, tetapi untuk melakukan kehendak Dia yang telah mengutus Aku.” (Yohanes 6:38) “AjaranKu tidak berasal dari diriKu sendiri, tetapi dari Dia yang telah mengutus Aku.” (Yohanes 7:16) Bukankah yang mengutus lebih unggul dari yang diutus?
"Bagaimana Yesus adalah Allah ketika Ia mengatakan bahwa ia melakukan kehendak Bapa dan sebagai pribadi yang diutus oleh Bapa. Tentunya ayat-ayat itu menunjukkan bahwa kedudukan Yesus lebih rendah dari Bapa, dengan demikian Yesus tidaklah setara dengan Allah", lebih lanjut beliau berkata. Dan ia memperlihatkan  halaman 19 yang mencatat:
KETIKA Yesus memberikan nubuatnya mengenai akhir sistem ini, ia berkata: “Tetapi tentang hari atau saat itu tidak seorangpun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anakpun tidak, hanya Bapa saja.” (Markus 13:32) Jika Yesus adalah Anak yang setara, bagian dari Keilahian, ia pasti mengetahui apa yang diketahui sang Bapa. Namun Yesus tidak tahu, karena ia tidak setara dengan Allah.
"Jelas, jika Yesus adalah Allah yang setara dengan Bapa, Yesus pasti mengetahui apa yang diketahui Allah, bukan? Tetapi mengenai kapan kiamat, Yesus mengatakan Ia tidak tahu. Dengan demikian Ia bukanlah Allah," kata Penatua itu.

Saya memandang beliau dan bertanya: "Jika memang doktrin Tritunggal tidak diajarkan di dalam Alkitab dan hal ini diakui oleh para teolog-teolog Trinitarian, apakah kemudian mereka berbondong-bondong memeluk keyakinan yang diajarkan oleh Menara Pengawal? Anehnya tidak demikian, bukan? Jika mereka masih tetap menjadi penganut Trinitarian (padahal mereka mengatakan doktrin Tritunggal tidak diajarkan di dalam Alkitab) bukankah hal ini menjadi lebih misterius dari doktrin Tritunggal itu sendiri? Jadi apakah yang salah di dalam kutipan-kutipan Menara Pengawal tersebut? Tidakah Sdr. curiga?"

Kemudian saya bertanya kepada Penatua itu, "Pahamkan Sdr. dengan Tritunggal ekonomis dan ontologis maupun relasi subordinasi Tritunggal (disebut juga relasi subordinasi ekonomis)."

"Wah, istilah apalagi itu. Pasti bukanlah ajaran Alkitab karena istilah-istilah itu tidak ada di dalam Alkitab. Istilah Tritunggal saja tidak ada di dalam Alkitab maka jelas tidak diajarkan di dalam Alkitab," Penatua itu memberikan argumentasinya.

Lalu saya berkata, "Sungguhkah suatu istilah kata yang tidak ada di dalam Alkitab berarti konsep dari istilah kata itu berarti tidak diajarkan di dalam Alkitab? Bagaimana dengan istilah kata 'Balai Kerajaan, teokrasi, organisasi [Allah]' dan istilah-istilah lain yang digunakan oleh Menara Pengawal, apakah ada di dalam Alkitab? Boleh ditunjukkan kepada saya di mana ada istilah kata-kata tersebut? Jika Sdr. tidak dapat menunjukkannya apakah berarti konsep tempat ibadah dan persekutuan Saksi-Saksi Yehuwa tidak diajarkan di dalam Alkitab atau pemerintahan Allah secara langsung di jaman PL yang disebut teokrasi berarti tidak ada konsep itu di dalam Alkitab? Konsep-konsep itu ada di dalam Alkitab, tetapi istilah-istilahnya tidak ada, bukan?"

Misalnya, jika kita tidak menggunakan istilah Balai Kerajaan di dalam sebuah percakapan berikut ini: 
Marilah kita pergi ke 'tempat Saksi-Saksi Yehuwa berhimpun dan beribadah' karena di 'tempat Saksi-Saksi Yehuwa berhimpun dan beribadah' dapat kita temukan banyak orang yang ramah dan bersahabat. Di 'tempat Saksi-Saksi Yehuwa berhimpun dan beribadah' dapat pula kita belajar dan mendengarkan Firman Allah.
Nah, kita renungkan kalimat-kalimat yang say bold tersebut di atas. Betapa ribet dan panjangnya kalimat-kalimat yang kita gunakan tanpa istilah kata 'Balai Kerajaan', bukan? Bukankah lebih mudah dan ringkas jika kita menggantinya dengan istilah 'Balai Kerajaan'?

Mendengar argumentasi saya itu, Penatua itu baru terdiam dan memahami maksud saya. Dan percayalah, ketika Sdr. bertemu dengan Saksi-Saksi Yehuwa, mereka selalu berkata demikian untuk membuktikan bahwa doktrin Tritunggal bukanlah ajaran Alkitab. Dan jangankan mengajarkan Tritunggal ekonomis dan ontologis maupun relasi subordinasi Trinitas, perbedaan modalisme dengan Tritunggal pun dikacaukan oleh Menara Pengawal sedemikian rupa agar Saksi Yehuwa memiliki pemahaman yang keliru (lihat Menara Pengawal Mengajar Saksi Yehuwa Dengan Keliru: Bahasan 2)

Lebih lanjut saya berkata kepada dia, "Demikian juga istilah Tritunggal. Memang istilah Tritunggal tidak ada di dalam Alkitab, tetapi konsep ini diajarkan di dalam Alkitab. Kelihatannya Sdr. pun tidak memahami atau Menara Pengawal sama sekali tidak mengajarkan Tritunggal ekonomis, ontologis apalagi relasi subordinasi Trinitas. Mari saya tunjukkan apa yang dimaksud istilah-istilah tersebut sehubungan dengan tulisan-tulisan Menara Pengawal tersebut [di atas] yang dibuat sedemikian rupa untuk mendiskreditkan ajaran Tritunggal. Istilah-istilah sangat berhubungan dengan  apa yang diperdebatkan oleh para Bapa Gereja di konsili Nicea dan apa yang dibicarakan oleh para teolog di dalam buku-bukunya, namun dengan sengaja dikutip oleh Menara Pengawal dengan tidak lengkap sehingga menyesatkan."


Nah berikut penjelasan saya untuk menjawab argumentasi-argumentasi Menara Pengawal tersebut.


Jika kita ingin membahas dan mengerti sejarah ajaran Tritunggal dengan lengkap, sesungguhnya kita tidak dapat lepas dari istilah ‘Ontologis Trinitas dan Ekonomis Trinitas’ yang merupakan pembahasan ahli-ahli teologi yang begitu mendalam tentang Trinitas sepanjang sejarah kekristenan. Apakah itu Ontologis (disebut juga essensial/imanen) Trinitas dan Ekonomis Trinitas? Kali ini saya akan bahas dulu 'Ontologis Trinitas' baru kemudian artikel berikutnya 'Ekonomis Trinitas' dan kemudian 'Relasi Subordinasi Ekonomis'.


Ontologis adalah hal-hal yang menyangkut 'hakekat atau kodrat' Allah sebagai pencipta yang bersifat metafisika. Alkitab sama sekali tidak mencatat hal-hal yang bersifat metafisika tentang hakekat Allah yang demikian, seperti misalnya Allah terbuat dari apa, bagaimana cara Allah berpikir, bagaimana atau dengan bahan apa Allah mencipta alam semesta, dan bagaimana mungkin Allah tidak memiliki permulaan dan lain-lain pertanyaan yang di luar kemampuan otak manusia sebagai ciptaan untuk memahaminya. Mengenai hal ini merupakan 'sebuah misteri' bagi manusia. Musa pernah menanyakan kepada Allah langsung 'Siapakah Engkau?' dan dijawab oleh Allah, 'Aku adalah Aku' tanpa memberi tahu lebih lanjut lagi (Kel. 3:13-14).


Demikian juga kitab Ayub 11:7-9 menantang kita 'apakah kita mengetahui perkara-perkara yang dalam dari Allah dan mengetahui tentang Yang Mahakuasa selengkapnya?' Jawabannya adalah jelas, tidak.
Dapatkah engkau mengetahui perkara-perkara yang dalam dari Allah, Atau dapatkah engkau mengetahui tentang Yang Mahakuasa selengkapnya? Hikmat lebih tinggi daripada langit. Apa yang dapat engkau capai? Hikmat lebih dalam daripada Syeol. Apa yang dapat kauketahui? Hikmat lebih panjang daripada ukuran bumi, Dan lebih luas daripada laut. (NW)



Dapatkah engkau memahami hakekat Allah, menyelami batas-batas kekuasaan Yang Mahakuasa? Tingginya seperti langit — apa yang dapat kaulakukan? Dalamnya melebihi dunia orang mati — apa yang dapat kauketahui? Lebih panjang dari pada bumi ukurannya, dan lebih luas dari pada samudera. (LAI)
Please, note. Terjemahan LAI menggunakan istilah 'hakekat Allah' sedangkan NW menterjemahkan 'perkara-perkara yang dalam dari Allah'. 

Bahkan seorang teolog besar abad 4 yang bernama Agustinus mengatakan, "Jika kita dapat memahami Allah, maka Ia bukanlah Allah". Jadi jelas, ketika Alkitab tidak menyatakannya, maka tidak mungkin kita memahaminya. Dan mengenai hal-hal yang bersifat ontologis, jelas Alkitab tidak menyatakannya. Dengan demikian, buat apa kita pikirkan, bukan?


Menara Pengawal pun setuju bahwa banyak hal-hal yang menyangkut 'hakekat' Allah tidak dapat dipahami. Di dalam bukunya 'Bertukar Pikiran' hlm. 53-54 dengan sub-judul 'Apakah Allah mempunyai permulaan?'


Mz. 90:2: ”Sebelum gunung-gunung dilahirkan, atau sebelum engkau melahirkan bumi dan tanah yang produktif bagaikan dengan sakit bersalin, dari waktu yang tidak tertentu sampai waktu yang tidak tertentu, engkaulah Allah.”


Apakah hal itu masuk akal? Pikiran kita tidak dapat memahami hal itu sepenuhnya. Namun, itu bukan alasan yang kuat untuk menolaknya. Pertimbangkan contoh-contoh: (1) Waktu. Tidak seorang pun yang dapat menunjuk ke suatu saat tertentu sebagai permulaan waktu. Dan faktanya adalah, meskipun kehidupan kita berakhir, waktu tidak berakhir. Kita tidak menolak gagasan tentang waktu karena ada segi-segi darinya yang tidak kita pahami sepenuhnya. Sebaliknya, kita mengatur kehidupan kita dengan waktu. (2) Ruang. Para astronom tidak menemukan permulaan atau akhir ruang. Makin jauh mereka mencari-cari di alam semesta, makin luaslah ruang itu. Mereka tidak menyangkal apa yang diperlihatkan oleh buktinya; banyak yang menyebut ruang tidak ada batasnya. Prinsip yang sama berlaku untuk keberadaan Allah.
Ya, kali ini saya setuju dengan Menara Pengawal tentang keberadaan Allah yang merupakan 'suatu misteri' bagi kita untuk memahaminya. Satu pertanyaan saja yaitu 'apakah Allah memiliki permulaan?' Kita tidak dapat menjawabnya dengan tuntas dan mudah. Meski pun kita tidak dapat memahami sepenuhnya. Namun, itu bukan alasan yang kuat untuk menolaknya. Mengapa? Karena iman mendahului pemahaman dan pengertian. Dengan mata iman, kita dapat memahaminya. Dan ini bukanlah berarti pemahaman kita menjadi tidak masuk akal. Saya mengatakannya 'melampaui akal atau di luar jangkauan akal' manusia sebagai ciptaan untuk memahaminya.

Hal-hal yang bersifat ontologis memang sulit dipelajari maupun dimengerti karena Alkitab tidak menyatakannya dan ini merupakan suatu fakta. Namun demikian, ini bukanlah berarti bertentangan dengan akal (tidak masuk akal) yang berarti tidak logis, berlawanan dengan jalan pikiran dan segala prinsip untuk mendapatkan konklusi yang logis.

Meskipun demikian, dalam batas-batas tertentu Alkitab menyatakan hakekat Allah yaitu Allah itu kekal, maha kuasa, maha hadir, maha tahu dan lain-lain kualitas ilahi yang hanya dimiliki oleh Allah saja. 

Demikian juga apa yang disebut para teolog sebagai Ontologis Trinitas, yaitu hubungan atau relasi antara Bapa, Yesus dan Roh Kudus yang bersifat metafisika tidak dicatat di dalam Alkitab. Sepanjang sejarah manusia mempertanyakannya 'bagaimana mungkin ada 3 Pribadi Ilahi di dalam  satu hakekat Allah dan bukan 3 allah'? Pertanyaan ini bersifat ontologis sehingga di luar kemampuan akal manusia untuk memahaminya dan dengan demikian menjadi sebuah misteri. Tetapi sekali lagi, hal ini bukanlah berarti 'tidak masuk akal atau bertentangan dengan akal'. Kita dapat memahaminya dengan mata iman.


Sayangnya, Menara Pengawal telah mengutip Encyclopedia Americana secara tidak lengkap untuk mendiskreditkan doktrin Tritunggal seolah-olah tidak masuk akal di brosur 'Haruskah Anda Percaya Kepada Tritunggal' hlm. 4 sebagai berikut:
Kebingungan ini tersebar luas. The Encyclopedia Americana mengatakan bahwa Tritunggal dianggap "di luar jangkauan akal manusia".
Padahal jika kita lihat teks aslinya, dalam bahasa Inggris berbunyi:
It is held that although the doctrine is beyond the grasp of human reason, it is, like many of the formulations of physical science, not contrary to reason, and may be apprehended (though it may not be comprehended) by the human mind. (Encyclopedia Americana, Trinity, hlm. 116)
Terjemahannya:
Diyakini, bahwa walau pun doktrin tersebut di luar jangkauan akal manusia, doktrin tersebut, seperti banyak rumus ilmu fisika, tidak bertentangan dengan akal, dan mungkin dapat diterima (walaupun mungkin tidak dimengerti) oleh akal manusia."
Padahal maksud dari Encyclopedia Americana adalah ketika kita berbicara Tritunggal yang berkenaan dengan hubungan atau relasi Bapa, Anak dan Roh Kudus yang bersifat metafisika (ontologis), hal ini tidak dinyatakan di Alkitab sehingga dengan demikian, hubungan itu menjadi sebuah misteri. Karena bersifat ontologis maka dikatakan 'di luar jangkauan akal manusia' tetapi tentunya doktrin Tritunggal dapat diterima oleh akal kita, walaupun mungkin tidak mudah dimengerti.

Namun demikian, meskipun hubungan metafisika antara Bapa, Putra dan Roh Kudus tidak secara eksplisit dinyatakan di dalam Alkitab, tetapi Alkitab menyatakan Putra dan Roh Kudus memiliki hakekat yang sama dengan Bapa secara implisit. Nah, pernyataan-pernyataan inilah yang menjadi dasar dari pembentukan rumusan Tritunggal yang secara eksplisit dinyatakan di Konsili Nicea.


Nah, apakah berarti doktrin Tritunggal tidak diajarkan atau ada di dalam Alkitab? Jelas ada, tetapi Tritunggal yang bersifat ekonomis, bukan ontologis. Dan istilah ekonomis dan pemahamannya dikembangkan oleh Tertullian. Bahkan sesungguhnya, para nabi dan rasul menulis kitab-kitabnya dalam pemahaman dan bahasa yang bersifat ekonomis. Demikian juga Rasuli dan Apologis (mungkin hanya Tertullian yang menyadari ada sesuatu yang lebih dari sekedar Tritunggal Ekonomis. Di dalam tulisan-tulisannya Tertullian sedikit memiliki kesadaran akan Tritunggal Ontologis) memahami Firman Allah yang diwarisinya dengan pemahaman ekonomis. Mereka tidak memiliki kesadaran akan Ontologis Trinitas. (Lihat pembahasan Doktrin Tritunggal: Bapa Gereja Purba untuk lebih jelasnya) Jadi jelas ini pun memiliki sejarah yang panjang, bukan? Lalu apakah pemahaman Tritunggal Ekonomis? Saya bahas di artikel berikutnya.


Jadi kapankah Ontologis Trinitas diperdebatkan? Abad ke 4, yaitu ketika Arius mempertanyakan hubungan relasi antara Bapa dan Putra secara metafisika dengan menolak Yesus Kristus sehakekat dengan Bapa. Di sidang Konsili Nicea lah baru diformulasikan dengan formal doktrin Tritunggal yang bersifat ontologis secara eksplisit. Dengan demikian pada bad ke-4 lah terjadi peralihan pemahaman Tritunggal dari yang bersifat ekonomis menjadi ontologis.  


Perhatikan kata 'secara eksplisit' yang saya gunakan. Apakah maksud eksplisit? Kata 'eksplisit' berasal dari kata bahasa Inggris 'explicit' yang dijelaskan oleh kamus Websters: clearly stated or shown atau dengan jelas (gamblang) dinyatakan (didefinisikan) atau diperlihatkan. Lalu apakah maknanya? Hubungan relasi antara Bapa dan Putra yang dinyatakan dengan gamblang di dalam kredo Nicea, yaitu:

Kami percaya kepada satu Allah... Dan kepada satu Tuhan Kristus Yesus, Anak Allah, yang diperanakkan dari Bapa, satu-satunya yang diperanakkan, yaitu dari substansi sang Bapa, Allah dari Allah, terang dari terang. Allah yang sejati dari Allah yang sejati, diperanakkan bukan dicipta, sehakikat (homoousios) dengan Bapa, yang oleh-Nya segala sesuatu ada, yaitu apa yang di surga dan yang di bumi...Dan kepada Roh Kudus....

Nah, rumusan kredo Nicea (atau pun Athanasius) yang formal di atas yang bersifat ontologis tidaklah dinyatakan di dalam Alkitab. Tetapi elemen-elemen Tritunggal di mana rumusan kredo Nicea dibentuk bersumber dari Alkitab. Jadi, rumusan pemahaman Tritunggal yang eksplisit mengacu kepada kredo Nicea atau Athanasius di mana secara eksplisit hubungan Bapa, Putra dan Roh Kudus yang bersifat metafisika dinyatakan (ontologis).

Nah, pemahaman saya di atas itu diteguhkan oleh Encyclopedia of Religion berikut ini, perhatikan kalimat-kalimat yang berwarna:

"TRINITY. Trinitarian doctrine touches on virtually every aspect of Christian faith, theology, and piety, including Christology and pneumatology, theological epistemology (faith, revelation, theological methodology), spirituality and mystical theology, and ecelesial life (sacraments, community, ethics). This article summarizes the main lines of trinitarian doctrine without presenting detailed explanations of important ideas, persons, or terms. The doctrine of the Trinity is the summary of Christian faith in God, who out of love creates humanity for union with God, who through Jesus Christ redeems the world, and in the power of the Holy Spirit transforms and divinizes (2 Cor. 3:18). The heart of trinitarian theology is the conviction that the God revealed in Jesus Christ is involved faithfully and unalterably in covenanted relationship with the world. Christianity is not unique in believing God is "someone" rather than 11 something," but it is unique in its belief that Christ is the personal Word of God, and that through Christ's death and resurrection into new life, "God was in Christ reconciling all things to God" (2 Cor. 5:19). Christ is not looked upon as an intermediary between God and world but as an essential agent of salvation. The Spirit poured out at Pentecost, by whom we live in Christ and are returned to God (Father), is also not a "lesser God" but one and the same God who creates and redeems us. The doctrine of the Trinity is the product of reflection on the events of redemptive history, especially the Incarnation and the sending of the Spirit. Development of Trinitarian Doctrine. Exegetes and theologians today are in agreement that the Hebrew Bible does not contain a doctrine of the Trinity, even though it was customary in past dogmatic tracts on the Trinity to cite texts like Genesis 1:26, "Let us make humanity in our image, after our likeness" (see also Gn. 3:22, 11:7; Is. 6:23) as proof of plurality in God. Although the Hebrew Bible depicts God as the father of Israel and employs personifications of God such as Word (davar), Spirit (ruah), Wisdom (hokhmah), and Presence (shekhinah), it would go beyond the intention and spirit of the Old Testament to correlate these notions with later trinitarian doctrine. Further, exegetes and theologians agree that the New Testament also does not contain an explicit doctrine of the Trinity. God the Father is source of all that is (Pantokrator) and also the father of Jesus Christ; "Father" is not a title for the first person of the Trinity but a synonym for God. Early liturgical and creedal formulas speak of God as "Father of our Lord Jesus Christ"; praise is to be rendered to God through Christ (see opening greetings in Paul and deutero-Paul). There are other binitarian texts (e.g., Rom. 4:24, 8:11; 2 Cor. 4:14; Col 2:12; 1 Tm. 2:5-6, 6:13; 2 Tm. 4: 1), and a few triadic texts (the strongest are 2 Cor. 13:14 and Mt. 28:19; others are I Cor. 6:11, 12:4-6; 2 Cor. 1:21-22; 1 Thes. 5:18-19; Gal. 3:11-14). Christ is sent by God and the Spirit is sent by Christ so that all may be returned to God. The language of the Bible, of early Christian creeds, and of Greek and Latin theology prior to the fourth century is "economic" (oikonomia, divine management of earthly affairs). It is oriented to the concrete history of creation and redemption: God initiates a covenant with Israel, God speaks through the prophets, God takes on flesh in Christ, God dwells within as Spirit. In the New Testament there is no reflective consciousness of the metaphysical nature of God ("immanent trinity"), nor does the New Testament contain the technical language of later doctrine (hupostasis, ousia, substantia, subsist ntia, prosdpon, persona). Some theologians have concluded that all post-biblical trinitarian doctrine is therefore arbitrary. While it is incontestable that the doctrine cannot be established on scriptural evidence alone, its origins may legitimately be sought in the Bible, not in the sense of "proof-texting" or of finding metaphysical principles, but because the Bible is the authoritative record of God's redemptive relationship with humanity. What the scriptures narrate as the activity of God among us, which is confessed in creeds and celebrated in liturgy, is the wellspring of later trinitarian doctrine. Dogmatic development took place gradually, against the background of the emanationist philosophy of Stoicism and Neoplatonism (including the mystical theology of the latter), and within the context of strict Jewish monotheism. In the immediate post New Testament period of the Apostolic Fathers no attempt was made to work out the God-Christ (Father-Son) relationship in ontological terms. By the end of the fourth century, and owing mainly to the challenge posed by various heresies, theologians went beyond the immediate testimony of the Bible and also beyond liturgical and creedal expressions of trinitarian faith to the ontological trinity of coequal persons "within" God. The shift is from function to ontology, from the "economic trinity" (Father, Son, and Spirit in relation to us) to the "immanent" or "essential Trinity" (Father, Son, and Spirit in relation to each other). It was prompted chiefly by belief in the divinity of Christ and later in the divinity of the Holy Spirit, but even earlier by the consistent worship of God in a trinitarian pattern and the practice of baptism into the threefold name of God. By the close of the fourth century the orthodox teaching was in place: God is one nature, three persons (mia ousia, treis hupostaseis). Questions of Christology and soteriology (salvation) occupied theologians of the early patristic period. (The Encyclopedia of Religion, Mircea Eliade, Trinity, Vol 15, p53-57)

Maaf, saya tidak menterjemahkan karena secara ringkas telah saya jelaskan. Jika ada pembaca ingin mengetahui terjemahannya, silahkan terjemahkan saja di google untuk mendapatkan terjemahannya. 


Menjawab Argumentasi Menara Pengawal 


Sebelum saya menyelesaikan bahasan tentang Ontologis Trinitas, saya ingin meluruskan kutipan-kutipan di atas dalam perspektif yang semestinya.


Argumentasi 1


Untuk membuktikan Tritunggal tidak diajarkan di Alkitab, Menara Pengawal mengutip berikut:
SEBUAH publikasi Protestan berkata, ”Kata Tritunggal tidak terdapat dalam Alkitab . . . Ia baru mendapat tempat secara resmi dalam teologi gereja pada abad ke-4.” (The Illustrated Bible Dictionary)
Jawaban Saya:


Ya, memang kata istilah 'Tritunggal' tidak ada di Alkitab memang tidak ada di dalam Alkitab, tetapi jelas Alkitab mengajarkan konsep doktrin Tritunggal. Yang paling utama adalah apakah Alkitab mengajarkan konsep Tritunggal? Apalah artinya jika kita menggunakan istilah yang ada di Alkitab tetapi konsepnya tidak ada, bukan?


Perjanjian Baru memang tidak memuat Tritunggal [yang bersifat ontologis] dan memang Ontologis Trinitas memang baru mendapatkan tempat yang resmi dalam teologi gereja pada abad ke-4 yaitu ketika Arius mempertanyakan dan menolak hubungan Bapa dan Yesus yang sehakekat. Bapa Gereja Purba telah menyelesaikannya di dalam Konsili Nicea 325. 


Namun, demikian Alkitab menyatakan Tritunggal yang bersifat ekonomis dan kesatuan hakekat hubungan antara Bapa, Putra dan Roh Kudus.


Argumentasi 2


Sekali lagi, untuk membuktikan doktrin Tritunggal tidak diajarkan oleh Alkitab, Menara Pengawal mengutip Encylopedia of Religion sebagai berikut:

The Encyclopedia of Religion mengatakan, ”Para teolog setuju bahwa Perjanjian Baru juga tidak memuat doktrin yang jelas mengenai Tritunggal.”
Kita lihat kalimat aslinya buku itu sebagai berikut:
... theologians agree that the New Testament also does not contain an explicit doctrine of the Trinity.
... para teolog setuju bahwa Perjanjian Baru juga tidak memuat sebuah doktrin Tritunggal yang eksplisit.
Bahasa aslinya menulis 'does not contain an explicit doctrine' yang saya terjemahkan 'tidak memuat sebuah doktrin Tritunggal yang eksplisit' tetapi Menara Pengawal Indonesia menterjemahkannya menjadi 'tidak memuat doktrin yang jelas'.



Jawaban saya:


Ya, benar. Perjanjian Baru tidak mengandung doktrin Tritunggal yang eksplisit. Kata kuncinya adalah 'eksplisit' yang mengacu kepada kredo Nicea ataupun Athanasius di mana doktrin Tritunggal secara ontologis eksplisit dinyatakan yaitu kredo yang saya sampaikan di atas. Tetapi, secara implisit, elemen-elemen dasar di mana rumusan formal doktrin Tritunggal dibentuk dapat ditemukan di dalam Alkitab.


Argumentasi 3


Sekali lagi, Menara Pengawal mengutip Fortman untuk membuktikan doktrin Tritunggal tidak diajarkan Alkitab sebagai berikut:
Imam Yesuit Fortman mengatakan, ”Para penulis Perjanjian Baru . . . tidak memberi kita doktrin Tritunggal yang resmi atau dirumuskan, juga tidak ajaran yang jelas bahwa dalam satu Allah terdapat tiga pribadi ilahi yang setara. . . . Di mana pun kita tidak menemukan doktrin tritunggal dari tiga subyek kehidupan dan kegiatan ilahi yang berbeda dalam Keilahian yang sama.”
Jawaban saya:


Kita lihat teks aslinya buku itu untuk memahami secara jelas apa yang tidak dikutip oleh Menara Pengawal sebagai berikut:
They give us no formal or formulated doctrine of the Trinity, no explicit teaching that in one God there are three co-equal divine persons. But they do give us an elemental trinitarianism, the data from which such a formal doctrine of the Triune God may be formulated. To study the gradual transition from an unformulated Biblical witness to the Father, Son and Holy Spirit to a dogmatic formulation of a doctrine of the Triune God... (The Triune God, Edmund Fortman, introduction, p.xv)
Yang saya terjemahkan:
Mereka [Penulis PB] tidak memberi kita doktrin Tritunggal yang resmi atau dirumuskan, juga tidak ajaran yang jelas bahwa dalam satu Allah terdapat tiga pribadi ilahi yang setara. Tetapi mereka memberi kita elemental trinitas, data-data dari mana sebuah doktrin formal dari Allah Tritunggal dapat diformulasikan. Mempelajari transisi bertahap dari saksi Alkitab yang tidak diformulasikan atas Bapa, Putra dan Roh Kudus kepada sebuah formula dogma dari doktrin Allah Tritunggal...
Kata kuncinya adalah 'doktrin Tritunggal yang resmi atau dirumuskan' yang mengacu kepada kredo Nicea atau Athanasius sebagai hasil rumusan Bapa-Bapa Gereja Awal. Nah, rumusan Nicea yang diresmikan dikonsili itu, tentukan tidak dimuat di Alkitab.


Tetapi perhatikan kalimat berikutnya yang dengan sengaja tidak dikutip oleh Menara Pengawal, yaitu 'Tetapi mereka memberi kita elemental trinitas, data-data dari mana sebuah doktrin formal dari Allah Tritunggal dapat diformulasikan'. Apakah artinya? Fortman mengatakan bahwa meski pun penulis PB tidak memberikan rumusan Tritunggal yang resmi [karena yang resmi baru terjadi pada konsili Nicea] tetapi para penulis PB memberikan elemen-elemen Trinitas di mana data-data doktrin formal di konsili Nicea diformulasikan. 


Nah sekarang kita lihat kecurangan Menara Pengawal dalam mengutip seorang teolog secara selektif untuk mendiskreditkan doktrin Tritunggal seolah-olah doktrin Tritunggal tidak ada di dalam Alkitab padahal penulis itu melanjutkan dengan kalimat berikutnya yang menyatakan elemen Tritunggal ditulis oleh penulis PB dan elemen-elemen ini menjadi data-data di konsili Nicea di mana formula Tritunggal yang secara eksplisit dinyatakan.


Argumentasi 4 


Kembali lagi Menara Pengawal menulis:
The New International Dictionary of New Testament Theology juga mengatakan, ”P[erjanjian] B[aru] tidak memuat doktrin Tritunggal yang diperkembangkan. ’Alkitab tidak memuat deklarasi yang terus terang bahwa Bapa, Anak dan Roh Kudus adalah dari zat yang sama’ [kata teolog Protestan Karl Barth].”

Dapatkah Sdr. sekarang memberikan jawaban yang sah setelah saya uraikan dengan panjang lebar di atas? Ya mudah, bukan? Kata kuncinya adalah doktrin Tritunggal yang 'diperkembangkan'. Memang doktrin Tritunggal secara ontologis diperkembangkan pada abad ke-4 dan apa yang diputuskan oleh konsili Nicea yaitu kredo tersebut tidak dimuat di Alkitab. Demikian juga Alkitab tidak memuat deklarasi yang terus terang [maksudnya eksplisit] bahwa Bapa, Anak dan Roh Kudus adalah dari zat yang sama, tetapi secara implisit; Alkitab jelas mencatatnya.


Apakah Trinitas Ekonomis? Saya akan bahas masalah ini di  Ekonomis Dan Subordinasi Tritunggal, Apakah Itu? untuk memberikan pemahaman yang lebih kepada kita tentang Tritunggal.



Ada jalan yang lurus dalam pandangan seseorang, tetapi ujungnya adalah jalan-jalan kematian (Amsal 16:25, NW)

9 comments :

  1. Halo selamat malam Bpk Awi. Senang bisa bertemu dg Bpk lagi. Perkenankanlah saya mengomentari artikel ini maupun artikel2 lainnya yg membahas topik Tritunggal. Kesimpulan saya setelah membaca semua artikel tsb adalah :
    PERTAMA : Doktrin Tritunggal adalah produk para filsuf dan teolog yang hidup lama setelah Yesus dan Rasul2nya tiada. Hal ini sangat2 jelas terlihat dr istilah2 "canggih" spt "ontologis", dlsb.
    KEDUA : Doktrin tersebut berkembang dan sampai ke bentuknya spt yg terdapat dlm Kredo Athanasia melalui banyak perdebatan dan intrik2 yg sangat bertentangan dg sifat2 Kristen dan sangat berbeda dg suasana "rapat/pertemuan" yg pernah di lakukan oleh para rasul dan tua-tua di Yerusalem sewaktu membahas persoalan yg juga sangat penting, sebagaimana dpt kita baca di Alkitab dlm Kisah Para Rasul pasal 15.
    KETIGA : Sewaktu Bpk Awi menjelaskan doktrin tsb, Bpk LEBIH BANYAK mengutip tulisan2 sekuler sebaliknya dari pada menjadikan Alkitab sbg DASAR nya.
    KEEMPAT : Krn merupakan produk buatan manusia2 pintar (filsuf & teolog) dan di jelaskan dg bahasa2 canggih maka tdklah mengherankan kalau keadaannya persis spt yg Bpk Awi nyatakan “Sayangnya, tidak banyak orang yang memahaminya dengan baik sehingga kerapkali timbul kerancuan terhadap ajaran ini. Saya menyayangkan hal ini bukan karena sok tahu, tetapi faktanya berbicara demikian. Bahkan doktrin Tritunggal amat jarang dibahas di mimbar-mimbar Kristen. Padahal doktrin ini amatlah penting untuk diketahui. Mungkin, pendeta pun kurang memahaminya sehingga tidak banyak membicarakannya. Dulu ketika saya belum benar-benar memahaminya, saya tanyakan kepada pendeta. Ironisnya, jawabannya lebih membingungkan.”
    Waduuh, kalau spt kata Bpk Awi, pendeta saja tdk benar2 memahaminya sehingga memberikan jawaban yg lebih membingungkan, bagaimana dg kebanyakan anggota jemaatnya? Bukankah mrk akn lebih kebingungan lagi? Apakah untuk bisa memahami ajaran yg sangat2 penting ini yaitu siapakah sebenarnya Allah itu seseorang hrs sekolah teologia terlebih dahulu atau harus memiliki otak yg jenius spt Bpk Awi?
    Demikianlah beberapa kesimpulan dan pertanyaan saya. Kalau tdk keberatan, mohon tanggapannya. Terima kasih dan selamat malam.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, malam jg Pa. Blog sy benar2 favorit ya? :-)

      Memang istilah2 itu dibuat untuk mempermudah org memahaminya, contohnya adalah istilah ontologis. Tp perlu diingat juga, bhw MP pun memiliki istilah-istilah canggih yg tdk ada di Alkitab, misal organisasi teokrasi. Nah, apakah kata teokrasi ada di dlm Alkitab?

      Sy menulis apa adanya berdasarkan pemahaman sy, jd sy tidak mau menutup-nutupi fakta yg ada bhw memang ada pdt yg tdk benar-benar memahaminya doktrin Tritunggal; luar dan dalam. Seperti yg saya katakan 'fakta ini menguntungkan Menara Pengawal yg sedang memancing di air yg keruh'. Jk smua org Kristen memahaminya dgn baik, gak akan menukar iman mereka dengan ajaran palsu MP. Namun demikian, tidak seperti MP yg mencoba menutupi kebenaran sejati dgn mengutip sana-sini dengan sengaja keliru agar menyesatkan pembacanya.

      Oleh sebab itu, sy menulis blog ini sebagai suatu 'pencerahan' bagi org yg kurang mengerti. Hasilnya? Sdh ada bebrpa org merasakan berkatnya. & Sy lebih yakin lagi, di masa mendatang lebih banyak lagi org yg akan dpt pemahaman.

      Nah, sy sdh memberi komentarnya. Bgnmana pertanyaan lainnya? Akan sy jawab stlh Bp menjawab pertanyaan sy (biar adil, jangan hanya Bp bisa bertanya).

      MP mengklaim bahwa Allah Yehuwa menyediakan publikasi2 Kristen melalui 'hamba yg setia' (MP 15/9/1994, hlm. 11-12). Nah, bagaimana mungkin Allah yg tdk dapat berdusta (Tit. 1:2) menyediakan publikasi2 yg dgn sengaja menipu pembacanya dgn mengutip sepotong karya Fortman dgn mengabaikan tulisan lainnya shg seolah2 Tritunggal tidak diajarkan, padahal tulisan lengkapnya berbunyi "Tetapi mereka [para rasul] memberi kita elemental trinitas, data-data dari mana sebuah doktrin formal dari Allah Tritunggal dapat diformulasikan". Jd dlm tulisan itu jelas mengatakan bahwa para rasul memberi elemen2 trinitas yg artinya trinitas diajarkan.

      Tolong ya pa, jawab pertanyaan sy, mengapa Allah yg diwakili oleh MP berdusta kpd pembacanya dgn mengutip tdk lengkap? Jk Bp tidak menjawabnya, wah sungguh kecewa sy. Bisa komentar tp ketika sy tanya balik, gak bisa menjawab.

      Tuhan Yesus memberkati Bp Maxi-Sam.
      Salam

      Delete
  2. Panjang amat, koq sepertinya ingin mengalihkan perhatian kpd pendapat yg kelihatannya didapat dari sekolah teologinya, tapi yg akan dikomentari seakan-akan tenggelam, terus di mana salahnya LMP itu? kenapa tdk mengomentari saja ayat-ayat yg menjadi "problem" Tritunggal
    yg banyak jg dipertanyakan oleh umum, utamanya agama mayoritas dan jg yg dibeberkan oleh SSY ? lalu dlm hal apa LMP dianggap kultus ? Simple sajalah !

    ReplyDelete
  3. Dear Sdr Truly

    Senang membaca komentar Anda di blog ini.

    You said:

    terus di mana salahnya LMP itu?


    My reply:

    Organisasi Saksi Yehuwa mengklaim diarahkan oleh Allah Yehuwa. Artinya organisasi ini mewakili Allah yang maha kudus. Lalu mengapa, misalnya dalam bahasan ini, mengutip Fortman yg merupakan seorang Trinitarian dibuat seolah-olah Fortman setuju bhw doktrin Tritunggal tidak diajarkan Alkitab berikut ini:

    Imam Yesuit Fortman mengatakan, ”Para penulis Perjanjian Baru . . . tidak memberi kita doktrin Tritunggal yang resmi atau dirumuskan, juga tidak ajaran yang jelas bahwa dalam satu Allah terdapat tiga pribadi ilahi yang setara. . . . Di mana pun kita tidak menemukan doktrin tritunggal dari tiga subyek kehidupan dan kegiatan ilahi yang berbeda dalam Keilahian yang sama.”

    Kita bandingkan dng tulisan lengkap Fortman berikut ini:

    Mereka [Penulis PB] tidak memberi kita doktrin Tritunggal yang resmi atau dirumuskan, juga tidak ajaran yang jelas bahwa dalam satu Allah terdapat tiga pribadi ilahi yang setara. Tetapi mereka memberi kita elemental trinitas, data-data dari mana sebuah doktrin formal dari Allah Tritunggal dapat diformulasikan. Mempelajari transisi bertahap dari saksi Alkitab yang tidak diformulasikan atas Bapa, Putra dan Roh Kudus kepada sebuah formula dogma dari doktrin Allah Tritunggal...

    Dr tulisan asli yg lengkap jelas Fortman mengatakan "Tetapi mereka {penulis PB] memberi kita elemental trinitas, data-data dari mana sebuah doktrin formal dari Allah Tritunggal dapat diformulasikan"

    Sudahkah Anda paham dimana dng sengaja organisasi mengutip secara tidak lengkap tulisan Fortman utk mendukung ajarannya?

    Bolehkah saya bertanya: Apakah benar Allah mengendalikan organisasi ini jika mengutip tulisan orang lain secara tidak lengkap utk mendukung ajarannya?

    You said:

    lalu dlm hal apa LMP dianggap kultus


    My reply:

    Untuk membuktikan organisasi Saksi Yehuwa sebagai sebuah kultus tidak cukup Anda membaca 1 atau 2 artikel saja. Anda perlu membaca banyak artikel yg saya buat di blog ini.

    Utk membuktikan secara singkat, saya telah membuktikan organisasi ini sebagai sebuah kultus berdasarkan kriteria/tanda-tanda kultus yg dibuat oleh organisasi ini sendiri bisa Anda klik di Saksi Yehuwa, Suatu Kultus Atau Rohaniwan Allah?: Pemilihan Ilahi

    Tolong tanggapannya ya. Terima kasih

    Salam kasih Tuhan Yesus

    ReplyDelete
  4. Sudahkah anda mengomentari dari sekian banyak ayat Alkitab yg dibeberkan oleh SSY yg seolah-olah mendukung Tritunggal, tapi
    ternyata dijawab atau tepatnya dibongkar ttg kesalahannya secara
    logic oleh SSY yg dimuat dalam buku/brosur "Haruskah Anda percaya kepada Tritunggal" ? Ini saya kutip (baru) satu saja ayat yg 'bertentangan' dgn tritunggal, misal, doa Yesus kpd Bapa-nya di Yohanes 17:3 " Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus." Nah, di situ Yesus sendiri mengatakan bhw Bapa-nya lah SATU-SATUNYA ALLAH YG BENAR, satu-satunya berarti tidak ada yg kedua atau ketiga,... hanya satu ! , bgmn tanggapan anda?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya Bringharjo.

      Dear Saudara Awi yg telah membuat situs ini dgn baik.. semoga Tuhan memberkati dan melindungi selalu upaya Saudara.

      Untuk Saudara Truly, saya melihat anda sudah tau sebenarnya didalam hati ada yang salah dan bahwa perhimpunan juga LMP tidak se-Ilahi yang di paksa-percayakan lembaga kepada Jemaatnya yang polos dalam doktrin tiap hati melalui ayat harian dan khotbah mingguan.

      Apakah anda yakin bahwa para teologia dan pendiri Gereja memang sebuta itu menerima ajaran Tritunggal tanpa dasar seperti yang LMP selalu katakan? anda boleh percaya atau tidak.. LMP dan SY itu sangat mentah dari terjemahan Ibrani dan tafsiran Brur.. LMP tidak punya ijazah bahasa Ibrani dan Aramaik yang diakui umum.. yakin kita siap mati demi organisasi yang menemukan doktrin 1914 dari anak tangga piramid?? yakin kita siap muter2 di terik siang hari ngabar demi organisasi yang bahkan sudah membuat alkitab yang mengurangi terjemahan dari bahasa aslinya??? saya sungguh malu melihat NWT berani membuat alkitab yang jauhh berbeda bahkan dengan bahasa Ibrani dan Aram nya sendiri... LMP bukan ahli tata bahasa.. bahkan lembaga pimpinan bukanlah lulusan bahasa ibrani mereka cuma perintis..

      Dulu saya terpesona melihat bagaimana artikel SY dikaitkan dengan kutipan profesor ahli sejarah dan penulis buku universitas.. tapi sekarang dengan internet setelah saya cek ternyata banyak yang di kutip bohong oleh LMP.. ada yang di ambil tanpa seluruh kalimat, ada yang diambil dengan kata yang dikurangi, ada juga yang mengutip dari seorang yg peneliti amatiran alias abal2 dan bahkan ateis demi mencocokan dengan ajaran LMP.. shock saya Brur... LMP kok bisa sedemikian manusiawi dan tega menipu umatnya pantas saja doktrin 1914 sangat lemah dan cuma SY yang dengan ngga tau malunya berusaha pertahankan walau jadi bahan tertawaan pihak Gereja, pantas saja dulu waktu ngabar saya sering ketemu Pendeta dan air muka mereka iba melihat saya..

      Intinya LMP organisasi manusia kok Brur.. tidak Ilahi dan bukan wakil Tuhan.. sering salah dan mengurangi kata2 di Alkitab dan ngutip bohong aja sudah hina menurut saya.. malu saya dulu percaya diri macam orang bodoh.

      Selamat Paskah Saudara AWI.

      Semoga Tuhan melindungi dan memberkati Saudara Truly.


      Jesus Bless Us.

      Delete
  5. Halo bung Truly

    Sebagian kecil saya sdh membahas argumen-2 SSY ttg Tritunggal dlm berbagai artikel di blog ini. Mengapa sebagian kecil?

    (1) Karena saya tidak memfokuskan bahasan pd masalah doktrin SSY. Blog ini mengkaji SSY sebagai sebuah kultus.

    (2) Masalah SSY bukanlah masalah teologi, melainkan psikologi krn SSY pengikut kultus yg memanfaatkan psikologi utk mengontrol kehidupan anggotanya. Misalnya hari ini BP mengajarkan doktrin A, besok bisa berubah jd B. Dan ini tidak masalah bagi SSY dan doktrin baru tsb akan diikuti, ditaati. Padahal bbrp waktu lagi bisa jadi C. Jd sebenarnya bukan masalah doktrin tp psikologi

    Ayat Yoh 17:3 menjadi favorit ayat bagi SSY utk membuktikan Yesus bukanlah Allah sejati dan Bapa-nya lah SATU-SATUNYA ALLAH YG BENAR. Padahal Yoh 17:3 tdk mengajarkan Bapa-lah SATU-SATUNYA ALLAH YG BENAR jk kita lihat NWT dlm bhs Inggrisnya:

    "This means everlasting life, their taking in knowledge of you, the only true God, and of the one whom you sent forth, Jesus Christ"

    Apakah Anda bisa melihat perbedaan di bawah ini berdasarkan ayat di atas?

    A. Father, the only true God (Bapa, satu-satunya Allah yang benar)
    B. Only Father, the true God (hanya Bapa, Allah yang benar)

    Point (A) mengatakan Bapa, “the only true God”.

    Sebenarnya Yoh 17:3 mengajarkan Bapa, sebagai satu-satunya Allah yang benar dibandingkan dng allah yg palsu.

    Jadi, Bapa adalah “satu-satunya Allah yang benar”, maksudnya Bapa itu bukan allah yang palsu. Ini tidak bertentangan dengan Tritunggal.

    Sebaliknya argumentasi SSY didasarkan pd pemahaman (B), “only Father, the true God”, yang ternyata tidak dikatakan dalam Alkitab.

    Jk di Alkitab mengajarkan “hanya dirimu, Allah yang benar” atau “hanya Bapa, Allah yang benar”, maka ini jelas menolak Tritunggal. Tetapi, di Alkitab mengajarkan point B, melainkan A.

    Logikanya, jika Bapa adalah satu-2 nya Allah yg benar, tentunya ada allah yang palsu. Nah, apakah Yesus allah palsu? Setujukah Anda jk Yesus adalah allah palsu sedangkan Bapa, satu-satunya Allah yg benar? Bgm menurut Anda? Saya pribadi tidak percaya Yesus adalah allah palsu. Jk Anda tidak bisa menjawab ini maka jelas Anda memiliki pemahaman yg salah ttg Yoh. 17:3.

    Salam kasih Tuhan Yesus

    ReplyDelete
  6. Hallo bung Bringharjo

    Senang membaca ulasan pencerahannya kepada Sdr Truly.

    Nampaknya, Brur adalah mantan SSY.

    Bolehkah Brur menceritakan sebuah kesaksian di blog ini:
    1. Bagaimana Brur bisa tersadarkan dari pengaruh memabukkan psikologi kultus organisasi?
    2. Bagaimana perasaan Brur ketika tersadarkan dari mimpi buruknya? Hal ini saya tanyakan krn ada faktor psikologi yaitu luka batin yg mendalam yang diderita oleh mantan SSY sebagai pengikut sebuah kultus yg memanfaatkan manipulasi psikologi (maaf jika saya katakan Brur mantan pengikut kultus)

    Saya sangat berterima kasih jika Brur bersedia memberikan kesaksian sehingga dapat menjadi berkat bagi orang-orang yg membaca blog ini sehingga bagi oraang-orang Kristen lebih mewaspadai gerakan kultus Lembaga Menara Pengawal ini.

    Salam kasih Tuhan Yesus

    ReplyDelete
  7. Shalom bapak, ibu saudara/i di manapun berada. Apakah Sudah ada yang pernah mendengar tentang Shema Yisrael? Ini adalah kalimat pengakuan iman orang Yahudi yang biasa diucapkan pada setiap ibadah mereka baik itu di rumah ibadat atau sinagoga maupun di rumah. Yesus juga menggunakan Shema untuk menjawab pertanyaan dari seorang ahli Taurat mengenai hukum yang utama. Kita dapat baca di Ulangan 6 ayat 4 dan pernah juga dikutip oleh Yesus di dalam Injil Markus 12 : 29. Dengan mengucapkan Shema, orang Yahudi mengakui bahwa YHWH ( Adonai ) Elohim itu esa dan berdaulat dalam kehidupan mereka. Berikut teks Shema Yisrael tersebut dalam huruf Ibrani ( dibaca dari kanan ke kiri seperti huruf Arab ) beserta cara mengucapkannya ( tanpa bermaksud untuk mengabaikan atau menyangkal adanya Bapa, Roh Kudus dan Firman Elohim yaitu Yeshua haMashiakh/ ישוע המשיח, yang lebih dikenal oleh umat Kristiani di Indonesia sebagai Yesus Kristus ) berikut ini

    Teks Ibrani Ulangan 6 ayat 4 : ” שְׁמַ֖ע ( Shema ) יִשְׂרָאֵ֑ל ( Yisrael ) יְהוָ֥ה ( YHWH [ Adonai ] ) אֱלֹהֵ֖ינוּ ( Eloheinu ) יְהוָ֥ה ( YHWH [ Adonai ] ) אֶחָֽד ( ekhad )


    Lalu berdasarkan halakha/ tradisi, diucapkan juga berkat: ” ברוך שם כבוד מלכותו, לעולם ועד ” ( " barukh Shem kevod malkuto, le’olam va’ed " ) yang artinya diberkatilah nama yang mulia kerajaanNya untuk selama-lamanya " ). Apakah ada yang mempunyai pendapat lain?.
    🕎✡️👁️📜🕍🤴🏻👑🗝️🛡️🗡️🏹⚖️☁️☀️⚡🌧️🌈🌒🌌🔥💧🌊🌬️🏞️🗺️🏡⛵⚓👨‍👩‍👧‍👦❤️🛐🤲🏻🖖🏻🌱🌾🍇🍎🍏🌹🐏🐑🐐🐂🐎🦌🐪🐫🦁🦅🕊️🐟🐍₪🇮🇱⛪

    ReplyDelete

Tolong SEBUTKAN Nama Atau Initial Anda saat memberi komentar agar memudahkan Mitra diskusi Anda mengidentifikasikan Anda.

Non Kristiani, mohon tidak memberi komentar.

Jika Anda ingin komentar, silahkan klik DI SINI DULU

.