Doktrin Tritunggal: Bapa Gereja Purba

Illustrasi Doktrin Tritunggal
Saya telah membahas doktrin Tritunggal dari aspek teologis di Doktrin Tritunggal: Wahyu Bersifat Progresif, yaitu doktrin Tritunggal merupakan wahyu Allah yang bersifat progresif berdasarkan terang firman Tuhan. Karena wahyu yang bersifat progresif maka beberapa ahli mengatakan bahwa  doktrin ini berkembang dan berproses meski pun sumbernya berdasarkan Alkitab.

Sekarang di bagian ini, saya akan membahas aspek kedua yaitu aspek sejarah gereja purba yang tidak dapat kita lepaskan dari peranan para Bapa Gereja Purba tersebut sehubungan dengan keyakinan mereka terhadap Allah dan Yesus Kristus. Dan bagaimana proses dan perdebatan akan doktrin Tritunggal terjadi pada masa mereka hidup.

Meskipun Para Bapa Gereja Awal atau Purba mewarisi tulisan-tulisan kudus dari para rasul, janganlah Saudara berpikir bahwa mereka memiliki pemahaman yang tuntas dan lengkap seperti orang-orang zaman setelahnya. Justru, pemahaman mereka jauh dari sempurna dan lengkap. Mengapa demikian? Karena mereka tidaklah memiliki tulisan-tulisan kudus — seperti 4 Injil dan tulisan-tulisan lainnya dari para rasul — seperti yang kita miliki sekarang yaitu berisi 27 kitab yang membentuk Perjanjian Baru secara utuh. Meskipun, kitab-kitab tersebut telah beredar secara luas di kalangan umat Kristen purba, tetapi kanonisasi Alkitab belumlah terjadi. Dengan demikian Bapa Gereja Awal/Purba memiliki pemahaman dan pengetahuan yang terbatas terhadap konsep Alkitab secara keseluruhan. Misalnya, seorang Bapa Gereja memiliki salah satu kitab Injil, tetapi tidak memiliki kitab Roma, tulisan rasul Paulus. 

Oleh karena itu, mereka lebih banyak mengutip tradisi lisan dari pada firman tertulis. Komentar Berkhof:
Kanon dari Perjanjian Baru belum ditentukan, dan ini menjelaskan mengapa Bapa-bapa mula-mula ini begitu sering mengutip tradisi lisan dari pada firman tertulis.

The canon of the New Testament was not yet fixed, and this explains why these early Fathers so often quote oral tradition rather than the written word (The history of Christian Doctrines, hlm. 39)
Misalnya, tentang tulisan Justin Martyr yang merupakan salah seorang Bapa Apologis saja memiliki pemahaman yang kurang. Philip Schaff memberi komentarnya:
Ia menyebut Injil kanonik, tanpa menyebut nama pengarang-pengarangnya. ... Ia hanya mengutip kata-kata dan tindakan-tindakan dari Tuhan (Yesus). Ia menggunakan Matius dan Lukas, tetapi dengan sangat bebas, dan dari Pendahuluan Injil Yohanes ... ia mendapatkan ilham dari doktrin tentang Logos, yang merupakan inti dari theologianya. Ia secara explicit menyebut Wahyu Yohanes. Ia tidak mengetahui/ mengenal kanon yang tetap dari Perjanjian Baru, dan ... ia tidak pernah menyebut Paulus, tetapi beberapa penyebutan tak langsung dari text-text dari surat-surat Paulus ... hampir tidak bisa salah.


He calls the canonical Gospels, without naming the authors. ... He only quotes the words and acts of the Lord. He makes use of Matttew and Luke, but very freely, and from John’s Prologue ... he derived the inspiration of the Logos-doctrine, which is the heart of his theology. He expressly mentions the Revelation of John. He knew no fixed canon of the New Testament, and ... he nowhere notices Paul, but several allusions to passages of his Epistles ... can hardly be mistaken (History of the Christian Church, vol II, hlm. 720)
Jadi jelas, meskipun para Bapa Gereja Purba hidup sangat dekat dengan kehidupan para rasul, tetapi teologi dan pemahaman mereka terhadap Alkitab tidaklah sempurna. Nah, dengan demikian, hal ini mempengaruhi pemahaman mereka terhadap doktrin Tritunggal, yaitu semakin lengkap kitab-kitab mereka miliki, semakin jelas pemahaman mereka akan doktrin Tritunggal. Misalnya, Bapa Gereja Athanasius yang begitu gigih membela doktrin Tritunggal ternyata merupakan salah satu (atau mungkin satu-satunya) Bapa Gereja yang memiliki 27 kitab-kitab Perjanjian Baru yang kita kenal secara utuh di dalam bukunya Surat Paskah (Easter Letter).

Namun demikian, keyakinan mereka terhadap Kristus Yesus sangat jelas, yaitu Allah yang inkarnasi atau Firman Allah yang menjadi manusia atau dalam kamus bahasa rasul Yohanes: LOGOS (saya akan bahas di bawah).

Secara umum, para ahli membagi masa Bapa-Bapa Gereja Purba Pra Nicea ke dalam 2 masa yaitu Bapa Apostolik atau Rasuli dan Bapa Apologis. Sedangkan, menurut Louis Berkhof, masa Para Bapa Gereja Pra Nicea dibagi 3 masa yaitu Bapa Rasuli atau Apostolik, Bapa Apologis dan Anti-Gnostic Fathers yaitu Bapa-bapa yang menentang Gnosticisme. Di dalam bahasan saya ini, saya memasukkan Bapa Anti-Gnostic ke dalam Bapa Apologis.

Bagian berikut saya berikan penjelasan secara umum tentang Bapa-Bapa Gereja Pra Nicea sebagai berikut:

Bapa Rasuli/Apolistik

Berikut keterangan Berkhof mengenai Para Rasuli/Apolistik:
Bapa-bapa Rasuli adalah Bapa-bapa yang dianggap masih hidup sebelum rasul-rasul yang terakhir mati, dan beberapa dari mereka dikatakan adalah murid-murid dari rasul-rasul - The History of Christian Doctrines, hlm 37.


The Apostolic Fathers are the Fathers who are supposed to have lived before the last apostles died, of whom some are said to have been disciples of the apostles.
Di halaman yang sama, Berkhof mengatakan bahwa yang termasuk ‘The Apostolic Fathers’ adalah:
  • Clement dari Roma (30-100 M.).
  • Ignatius (meninggal 117 M.). 
  • Hermas (akhir abad 1 - awal abad 2 M.).
  • Barnabas dari Alexandria (akhir abad 1 - awal abad 2 M.).
  • Papias (60-130 M.).
  • Polycarp (69-160 M.).
Komentar Louis Berkhof tentang Bapa Rasuli di bukunya halaman 40 sebagai berikut:
Mereka menyaksikan tentang suatu iman bersama kepada Allah sebagai Pencipta dan Penguasa dari alam semesta, dan kepada Yesus Kristus, yang aktif dalam penciptaan dan sepanjang Perjanjian Lama, dan akhirnya muncul dalam daging. Sementara mereka menggunakan penamaan Allah sebagai Bapa, Anak, dan Roh Kudus, dan juga berbicara tentang Kristus sebagai Allah dan manusia, mereka tidak menyaksikan tentang suatu kesadaran tentang pengertian dan problem yang tercakup.

They testify to a common faith in God as the Creator and Ruler of the universe and in Jesus Christ, who was active in creation and throughout the old dispensation, and finally appeared in the flesh. While they use the scriptural designation of God as Father, Son, and Holy Spirit, and also speak of Christ as God and man, they do not testify to an awareness of the implications and problems involved ‘The History of Christian Doctrines’, hal 40.
Sebagai perbandingan, kita lihat pendapat Fortman mengenai Bapa-Bapa Rasuli di bukunya Triune God yang banyak dikutip Menara Pengawal dengan keliru sehingga seolah-olah Fortman — meskipun seorang Katolik — tidak mempercayai doktrin Tritunggal bersumber dari Alkitab dan tentunya kutipan berikut tidaklah dikutip di brosur tersebut:
Bapa-Bapa Rasuli adalah saksi data Alkitab dan iman tradisional dari pada teolog, tetapi mereka dilengkapi wawasan yang berguna sejalan dengan ketidak-sadaran akan teologi gereja yang sedang berkembang. Sebagian besar dari mereka menunjukkan cukup jelas keyakinan dalam keilahian Kristus, kurang jelas keyakinan dalam kepribadian yang berbeda dan keilahian Roh Kudus. Mereka memberi bukti kuat kepercayaan dalam tiga pra-ada 'makhluk,' tetapi mereka tidak dilengkapi doktrin tritunggal, tidak ada kesadaran dari masalah trinitas.


Apostolic Fathers were witnesses to the Biblical data and the traditional faith rather than theologians, but they furnished useful insights into the lines along which the Church's unconscious theology was developing. Most of them indicated quite clearly a belief in the divinity of Christ, less clearly a belief in the distinct personality and divinity of the Holy Spirit. They gave solid evidence of a belief in three pre-existent 'beings,' but they furnished no trinitarian doctrine, no awareness of a trinitarian problem. (The Triune God, Edmund Fortman, introduction, hlm. xv)
Lalu Fortman memberikan ringkasannya tentang iman dari Bapa-Bapa Rasuli di halaman 49 sebagai berikut:
Ringkasan Keseluruhan: Bapa-bapa Rasuli menyatakan bahwa hanya ada satu Allah. Mereka menegaskan keilahian dan kepribadian nyata Kristus cukup jelas dan bahwa Roh Kudus kurang jelas. Mereka tidak memberikan doktrin Tritunggal dan melihat tidak ada masalah trinitarian


Overall Summary:.... The Apostolic Fathers maintained that there was only one God. They affirmed the divinity and distinct personality of Christ quite clearly and that of the Holy Spirit less clearly. They offered no trinitarian doctrine and saw no trinitarian problem. (The Triune God, Edmund Fortman, hlm.49)
Saya ingin pembaca memperhatikan tulisan Fortman tersebut, yaitu komentar Berkhof dan Fortman yang sama tentang keilahian Yesus yaitu Bapa Rasuli meyakini akan keilahian Kristus


Bapa Apologis

Setelah Bapa Rasuli era berlalu, gereja purba menghadapi tekanan dari luar dan dalam yang menyebabkan pembelaan terhadap iman mereka, dengan demikian melahirkan Apologis-Apologis (pembela-pembela iman), dan yang terpenting dari mereka menurut Berkhof adalah:
  • Justin Martyr (tahun 100-165 M.).
  • Tatian.
  • Athenagoras.
  • Theophilus of Antiokhia.
Dan Bapa Anti-Gnostik yang mana menurut  para  ahli memasukkannya ke dalam kategori Bapa Apologis adalah: 
  • Irenaeus (lahir tahun 140 M.).
  •  Hippolytus (mati tahun 235 / 236 M.).
  • Tertullian (lahir pada pertengahan abad kedua Masehi).
Bagaimana Bapa Apologis menurut Fortman di Kata Pengantar-nya?
Para Apologis itu, dalam arti, teolog pertama Gereja: yang pertama untuk mencoba sketsa doktrin trinitas dan penjelasan yang memuaskan secara intelektual akan hubungan Kristus dengan Allah Bapa. Untuk menetapkan kebenaran yang diturunkan kepada mereka dari Rasul, mereka menggunakan terminologi dan filosofi yang saat itu berlaku, dan dalam proses itu mereka mengkristenisasi Helenisme sampai batas tertentu. Mereka mewujudkan keyakinan dalam keesaan Tuhan dan dalam beberapa jenis 'trinitas ketuhanan. "meskipun mereka belum ada konsepsi yang jelas dari 'pribadi ilahi' dan 'sifat ilahi.'"


The Apologists were, in a sense, the Church's first theologians: the first to attempt a sketch of trinitarian doctrine and an intellectually satisfying explanation of Christ's relation to God the Father. To set forth the truths handed down to them from the Apostles they used the terminology and philosophy that were then current, and in the process they christianized Hellenism to some extent. They manifested a belief in the unity of God and in some sort of 'trinity of divinity.' even though they had as yet no distinct conception of 'divine person' and 'divine nature.' 
Lalu halaman 43 Fortman menulis pemahaman Bapa Apologis yang memiliki pemahaman yang semakin jelas tentang Pribadi-Pribadi Ilahi dibandingkan Bapa Rasuli yaitu kesatuan dari Allah dan dalam sebuah Trinitas dari 'pribadi-pribadi' ilahi. Bapa, Anak dan Roh Kudus, meskipun belum ada konsep yang jelas dari pribadi ilahi dan natur ilahi. Ada sebuah identifikasi dari Kristus dengan Anak Allah dengan Logos dan dengan Allah. Kepada Logos mereka menganut sebuah pra-ada ilahi yang tidak hanya pra-penciptaan tetapi juga dengan saksama kekal.
The Apologists: Summary: In the Apologists we see a belief in the unity of God and in a trinity of divine 'persons.' Father, Son, and Holy Spirit, although there is as yet no distinct conception of divine person and divine nature. There is an identification of Christ with the Son of God with the Logos and with God. To the Logos they ascribe a divine pre-existence that is not only pre-creational but also strictly eternal.
Apakah yang dapat kita simpulkan dari tulisan-tulisan Fortman tersebut yang juga banyak dikutip oleh Menara Pengawal tidak dengan jujur?

Pertama, Bapa Gereja Pra Nicea tidak memandang Yesus sebagai makhluk ciptaan seperti yang diyakini oleh Saksi-Saksi Yehuwa. Mereka menganggap Yesus sebagai Allah. Demikian juga tentang Roh Kudus, tidak satu pun menganggap sebagai tenaga aktif Allah meskipun kesadaran tentang Roh Kudus masih samar-samar.

Kedua, Menara Pengawal telah mendustai para Saksi Yehuwa dengan menulis bahwa seolah-olah Bapa Rasuli tidak mempercayai bahwa Yesus adalah Allah, misalnya Clement dari Roma, tidak mempercayai Yesus sebagai Allah di dalam tulisannya:
Pendapat Clement sangat jelas: Putra lebih rendah dari Bapa dan merupakan tangan kanan-Nya. Clement tidak pernah memandang Yesus memiliki kekepalaan ilahi bersama dengan Bapa....(Menara Pengawal, 1/02/1992, hlm. 20 )
Dan Bapa Apologis lainnya yaitu memplintir keyakinan Ignatius yang ditafsirkan sedemikian rupa seolah-olah ia tidak mempercayai bahwa Yesus adalah Allah di dalam tulisannya Menara Pengawal, 1/02/1992, hlm. 21 sebagai berikut:
Memang, Ignatius menyebut Putra "Allah Firman". Tetapi dengan menggunakan kata "Allah" untuk Putra tidak mesti berarti kesamaan dengan Allah Yang Mahakuasa.
Ketiga, Menara Pengawal juga telah mendustai para Saksi Yehuwa tentang Bapa Apologis Tertullian yang seolah-olah tidak menulis tentang Tritunggal dengan tepat dan sama seperti yang diyakini oleh penganut Tritunggal masa kini. Bahkan dengan begitu berani Menara Pengawal menulis bahwa Tertullian tidak menyampaikan gagasan tentang tiga pribadi (yaitu Bapa, Putra dan Roh Kudus) Ilahi yang setara di dalam tulisannya di Menara Pengawal, 1/04/1992, hlm. 28) sebagai berikut:
Tertullian (± 160 hingga 230 M.) merupakan orang pertama yang menggunakan kata Latin trinitas. Sebagaimana dinyatakan oleh Henry Chadwick, Tertullian mengajukan bahwa Allah adalah ’satu zat terdiri atas tiga pribadi.’ Akan tetapi, ini tidak berarti bahwa ia memiliki gagasan mengenai tiga pribadi yang setara dan sama kekalnya. Namun, gagasannya dijadikan dasar oleh penulis-penulis sesudahnya yang berupaya mewujudkan doktrin Tritunggal.


Konsep Tertullian tentang Bapa, Putra dan roh kudus sangat jauh berbeda dari konsep Tritunggal Susunan Kristen, karena ia adalah seorang penganut subordinasionisme. Ia memandang bahwa sang Putra lebih rendah daripada sang Bapa.
Padahal jika kita kaji tulisan Menara Pengawal sendiri di Menara Pengawal 15/5/2002, hlm. 31 jelas menulis bahwa Tertullian menunjukkan konsep bahwa 'Allah, Putra-Nya, dan roh kudus adalah tiga pribadi yang berbeda yang ada dalam satu zat ilahi'[1] yang merupakan definisi singkat doktrin Tritunggal meskipun dipandang keliru oleh Menara Pengawal.
Tertulian memandang sang Putra sebagai bawahan sang Bapak. Akan tetapi, dalam upayanya untuk menentang modalisme, ia ”melampaui perkara-perkara yang tertulis”. (1 Korintus 4:6) Seraya Tertulian dengan keliru berupaya membuktikan keilahian Yesus melalui teori lain, ia mengarang rumusan ”satu zat dalam tiga pribadi”. Dengan konsep ini, ia berupaya menunjukkan bahwa Allah, Putra-Nya, dan roh kudus adalah tiga pribadi yang berbeda yang ada dalam satu zat ilahi. Dengan demikian, Tertulian menjadi orang pertama yang menerapkan bentuk kata Latin ”tritunggal” bagi Bapak, Putra, dan roh kudus. (bold dari saya) 
Jelas, Menara Pengawal telah membuat 2 tulisan yang saling bertentangan untuk menipu pembacanya. 

Logos

Terakhir di dalam bahasan ini. Bagaimana Bapa-Bapa Gereja Pra Nicea menjelaskan akan Yesus itu? Tentunya seperti yang saya telah jelaskan di atas, tidak satu pun Bapa Gereja memandang Yesus sebagai makhluk ciptaan seperti yang diajarkan oleh Menara Pengawal kepada Saksi Yehuwa. Bagi Bapa Gereja, Yesus adalah Firman Allah atau Logos yang inkarnasi. Logos telah ada di dalam diri Allah sejak dalam kekekalan. Mereka memandang Logos seperti  suara atau perkataan/kalimat yang berada di dalam diri kita ketika kita berpikir. Perhatikan kutipan Tertullian berikut ini yang menggambarkan suara pikiran Anda yang berada di dalam Anda. Suara pikiran yang berupa kata-kata ini merupakan 'orang kedua' di dalam diri Anda sendiri. Kata-kata Anda tentunya berbeda dengan Anda sendiri. Nah, menurut Tertullian, Logos dari Allah Bapa merupakan Pribadi Kedua dari Tritunggal.
Observe, then, that when you are silently conversing with yourself, this very process is carried on within you by your reason, which meets you with a word at every movement of your thought, at every impulse of your conception. Whatever you think, there is a word; whatever you conceive, there is reason. You must needs speak it in your mind; and while you are speaking, you admit speech as an interlocutor with you, involved in which there is this very reason, whereby, while in thought you are holding converse with your word, you are (by reciprocal action) producing thought by means of that converse with your word. Thus, in a certain sense, the word is a second person within you, through which in thinking you utter speech, and through which also, (by reciprocity of process,) in uttering speech you generate thought. The word is itself a different thing from yourself. (klik di sini untuk kutipannya)
Lalu kapan Bapa Gereja Purba memandang Yesus sebagai makhluk ciptaan? Siapakah yang mencetuskan ide yang demikian? Kita akan bahas tuntas Bapa Gereja Purba & Ajaran Bidat untuk mengetahui sumber doktrin ajaran Menara Pengawal tentang Yesus adalah makhluk ciptaan sesungguhnya berasal dari mana.


”Berjaga-jagalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan berbaju domba, tetapi di dalamnya, mereka adalah serigala-serigala yang rakus. Dari buah-buahnya kamu akan mengenali mereka. Tidak pernah orang mengumpulkan buah anggur dari tanaman berduri atau buah ara dari rumput duri, bukan? Demikian pula setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, tetapi setiap pohon yang busuk menghasilkan buah yang tidak berguna;" (Mat. 7:15-17)


[1] Perhatikan definisi Tritunggal yang diberikan oleh Menara Pengawal yaitu 'Allah, Putra-Nya, dan roh kudus adalah tiga pribadi yang berbeda yang ada dalam satu zat ilahi'. Padahal definisi singkat Tritunggal yang benar adalah Bapa, Putra dan Roh Kudus adalah tiga pribadi yang berbeda yang ada dalam satu zat ilahi. Hal ini bagi saya membuktikan 2 hal yaitu bahwa Menara Pengawal kurang memahami tentang doktrin Tritunggal. Atau kedua, Menara Pengawal  sedang mencoba membuat kebingungan akan doktrin Tritunggal yang benar kepada pembacanya. Dan berdasarkan pengamatan dan pembelajaran saya, yang kedua lah yang lebih tepat. Tentunya kita bertanya-tanya, mengapa Menara Pengawal melakukan demikian? Ya kembali lagi ke ciri-ciri sifat dasar dari organisasi kultus yaitu menipu pembacanya.

.