Tuhan Yesus Berbicara Langsung, Alkitabiahkah?

Renungan Pribadi Saksi Yehuwa Kristen Menara Pengawal
Renungan Pribadi
Di dalam blog ini, secara reguler saya ingin memberikan sebuah Renungan Pribadi (tentunya di samping Membongkar Ajaran Menara Pengawal) berdasarkan pergumulan pribadi yang saya alami sehari-hari; yang diperoleh dari mendengarkan kotbah, membaca artikel ataupun buku dan lain-lain. Tujuannya yaitu mencerdaskan pembaca blog ini, menelanjangi perbuatan-perbuatan fasik (Efesus 5:11) dan mencentuskan keresahan hati terhadap perkembangan doktrin yang semakin kacau di dalam sebuah zaman yang semakin fasik. Semoga apa yang saya tuangkan dalam Renungan Pribadi ini dapat bermanfaat bagi pembaca blog ini.

Nah, salah satu yang saya ingin bahas kali ini adalah berdasarkan suatu pengalaman pribadi yang terjadi pada tanggal 17 Desember 2011, ketika saya menghadiri sebuah kebaktian pemberkatan nikah dari seorang saudara saya di sebuah gereja yang cukup terkenal dan memiliki jemaat yang cukup banyak.

Secara tidak sengaja saya mendapatkan brosur gereja tsb No. 1201 yang menulis demikian[1]:
Karena perintah Tuhan Yesus langsung: "X [nama pendeta], rayakan natal di Stadion Utama dengan besar-besaran."...


Mengapa dirayakan dengan besar-besaran? 
  1. Langsung perintah Tuhan Yesus, untuk merayakan Natal dengan besar-besaran di Stadion Utama...
  2. Banyak yang bersaksi, bahwa mereka merekam acara natal X [nama gereja] di Stadion Utama tahun yang lalu, mereka merekam ada para malaikat, ada burung merpati beterbangan....
Membaca artikel pernyataan tersebut tentu saja bagi banyak orang mengejutkan. (Saya tidak terlalu terkejut karena saya sering mendengar pendeta itu banyak mengklaim hal-hal yang bersifat supra natural). Mengapa demikian? Renungkan baik-baik, pertama; Tuhan Yesus memerintahkan langsung kepada pendeta itu — entah melalui sebuah penglihatan, mimpi atau memang menampakkan diri langsung, saya tidak tahu karena tidak dijelaskan detail bagaimana perintah itu disampaikan di dalam brosur tersebut — untuk merayakan natal. 

Kedua, kesaksian penampakan para malaikat dan burung merpati yang terekam. Jika sebuah penampakan burung merpati yang terekam saya rasa adalah hal yang tidak terlalu aneh karena bisa saja terjadi, meskipun agak aneh yaitu malam-malam siapa lagi yang melepaskan burung merpati. Tetapi para malaikat? Saya coba membolak-balik brosur tersebut, kalau-kalau ada gambar rekaman para malaikat yang turut menghadiri kebaktian natal tersebut. Sayangnya, tidak ada gambar para malaikat tersebut.

Lalu — yang paling utama — pertanyaannya sekarang adalah apakah hal-hal yang demikian alkitabiah? Nah, inilah yang saya ingin bahas lebih detail karena yang menyatakan pernyataan yang bersifat supra natural tidak hanya pendeta tersebut, tetapi banyak pendeta lainnya juga menyatakan hal yang hampir mirip seperti; Tuhan Yesus atau Roh Kudus berkata kepada saya dan lain-lain pernyataan yang bersifat supra natural. Bahkan Menara Pengawal pun menyatakan hal yang bersifat supra natural yaitu Tuhan Yesus memilihnya pada tahun 1918 sebagai penggenapan nubuatan Matius 24:45-47, yaitu hamba yang setia dan bijaksana.

Tentunya, ketika saya membongkar klaim-klaim sepihak supra natural Menara Pengawal , mungkin banyak pembaca blog ini tidak percaya dan mentertawakan Saksi-Saksi Yehuwa yang mempercayai klaim Menara Pengawal (lihat Bukti Klaim Palsu Saksi Yehuwa: Pemilihan Ilahi), tetapi bagaimana dengan klaim pendeta X itu dan banyak pendeta lainnya?  Tanpa maksud menghakimi, saya ingin kita melihat dan memahaminya berdasarkan terang firman Tuhan yaitu apa kata Alkitab mengenai hal ini, yaitu apakah memungkinkan Tuhan Yesus maupun Roh Kudus berbicara langsung kepada seseorang atau pendeta. Dan dalam kasus Saksi-Saksi Yehuwa, Tuhan Yesus memilih langsung Menara Pengawal sebagai satu-satunya saluran komunikasi-Nya di bumi sehingga melalui Menara Pengawal, manusia boleh mengetahui kehendak Allah.

Pertama kita mengkaji Ibrani 1:1-2:
1 Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya, yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada. Oleh Dia Allah telah menjadikan alam semesta.
Pemahaman saya demikian:


Jelas ayat 1 berbicara bahwa pada zaman dahulu kala, Allah menyampaikan kehendak dan rencana-Nya dengan berbicara langsung kepada para nabi-nabi bangsa Israel — seperti Abraham, Musa, Yesaya, Elia dan lain-lain — dengan melalui mimpi, penglihatan maupun penampakan malaikat langsung. Para nabi itu diperintahkan Allah untuk menulis apa yang dialaminya menjadi sebuah buku yaitu Perjanjian Lama. Zaman yang demikian telah berakhir, tentunya. 

Kemudian ayat 2 menyatakan secara langsung yaitu pada zaman akhir ini — saya meyakini bahwa kita telah hidup pada zaman akhir — Allah Bapa telah berbicara melalui perantaraan Putra-Nya yaitu Tuhan Yesus kepada kita. Nah, pertanyaannya adalah bagaimana Allah berbicara langsung kepada kita melalui perantaraan Putra-Nya? Pertama, 2ooo tahun yang lalu, Yesus Kristus telah inkarnasi menjadi manusia untuk menyelamatkan manusia dari dosa-dosanya. 

Kedua, dengan inkarnasinya Yesus menjadi manusia berarti juga Firman Allah itu sendiri telah datang menjadi daging atau manusia (Yoh. 1:1). Artinya, bagi orang Kristen yang mempercayai Yesus adalah Allah; Allah Anak itu sendiri yaitu Sang Firman yang merupakan Allah Pribadi Kedua telah datang sebagai manusia dan berbicara kepada manusia sebagai Firman yang terakhir dan final. Oleh karena itu, setelah Firman terakhir dan final itu datang ke dunia, kita tidak mengharapkan Allah berbicara langsung lagi kepada manusia melalui seseorang maupun pemilihan sebagai juru bicara-Nya seperti yang diklaim oleh Menara Pengawal. Mengapa? Sederhana, 

  1. Jika Allah Anak sendiri yang maha kuasa sudah langsung berbicara menyampaikan kehendak-Nya, apalagi yang lebih besar dari Allah sendiri yang telah berbicara langsung? Tentunya, tidak dibutuhkan juru bicara atau pun nabi sebagai juru bicara-Nya lagi karena Sang Firman itu sendiri telah berbicara langsung, bukan?
  2. Jika Tuhan Yesus masih berbicara lagi di zaman ini maka ada suatu wahyu baru yang perlu disampaikan kepada umat manusia. Pemahaman adanya wahyu baru sungguh-sungguh sangat berbahaya karena beranggapan bahwa Alkitab dengan 66 bukunya tidak cukup. Padahal wahyu Allah yang tertulis di dalam Alkitab sudah dianggap cukup dan tidak perlu ditambahkan lagi. Hal ini akan saya bahas di bawah.

Pemahaman saya ini selaras dengan komentari tafsiran Alkitab oleh Henry Matthew  berkenaan dengan Ibr. 1:1 yang dapat Saudara baca di Commentary on Hebrews 1 sebagai berikut:


Metode Allah dalam mengkomunikasikan pikiran dan kehendak-Nya di bawah dispensasi Perjanjian Baru-, yang disebut sebagai hari-hari terakhir, yaitu, baik menjelang akhir dunia, atau akhir dari masa kejayaan Yahudi. Masa waktu Injil adalah waktu yang terakhir, wahyu injil adalah wahyu terakhir yang kita harapkan dari Allah. Yang pertama kali adalah wahyu yang alamiah; kemudian patriarki, oleh mimpi, penglihatan, dan suara-suara, kemudian Musa, berbentuk hukum yang diberikan dan tertulis, lalu kenabian, untuk menjelaskan hukum, dan memberikan penemuan yang lebih jelas tentang Kristus: tapi sekarang kita harus berharap tidak ada wahyu baru, tetapi hanya lebih  banyak Roh Kristus yang membantu kita untuk lebih memahami apa yang sudah terungkap. Sekarang kemuliaan dari wahyu Injil yang disebutkan di atas terdiri dalam dua hal: 


  1. Ini adalah final, wahyu yang telah selesai , wahyu ilahi yang diberikan di hari-hari terakhir, yang mana tidak akan ditambahkan, tetapi kanon Kitab Suci telah selesai dan disegel: sehingga sekarang pikiran manusia tidak lagi dibuat dalam ketegangan dengan harapan penemuan baru, tetapi mereka bersukacita akan sebuah wahyu yang lengkap dari kehendak Allah, baik bersifat perintah dan pemeliharaan, sejauh yang diperlukan bagi mereka untuk diketahui sebagai petunjuk dan penghiburan....


God’s method of communicating his mind and will under the New-Testament dispensation, these last days as they are called, that is, either towards the end of the world, or the end of the Jewish state. The times of the gospel are the last times, the gospel revelation is the last we are to expect from God. There was first the natural revelation; then the patriarchal, by dreams, visions, and voices; then the Mosaic, in the law given forth and written down; then the prophetic, in explaining the law, and giving clearer discoveries of Christ: but now we must expect no new revelation, but only more of the Spirit of Christ to help us better to understand what is already revealed. Now the excellency of the gospel revelation above the former consists in two things:—

  1. It is the final, the finishing revelation, given forth in the last days of divine revelation, to which nothing is to be added, but the canon of scripture is to be settled and sealed: so that now the minds of men are no longer kept in suspense by the expectation of new discoveries, but they rejoice in a complete revelation of the will of God, both preceptive and providential, so far as is necessary for them to know in order to their direction and comfort...


Sekarang kita membahas bagian kedua yaitu jika Allah masih berbicara kepada seseorang di zaman ini maka berarti ada suatu wahyu maupun nubuatan baru. Dan wahyu baru ini akan sungguh-sungguh mengacaukan konsep dari kanonisasi Alkitab yang dipercayai oleh para Bapa Gereja modern sampai kepada para bapa reformasi yang mencetuskan istilah sola scriptura (hanya Alkitab) yaitu Alkitab dianggap cukup dan sudah final untuk mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan dan mendidik orang dalam kebenaran (2 Tim:3:16). Bagaimana mungkin?

Pertama, bayangkan betapa kacaunya jika setiap pendeta mengaku-ngaku mendapatkan suatu penglihatan maupun wahyu langsung dari malaikat ataupun Tuhan Yesus langsung di masa ini. Siapakah yang akan kita dengarkan dan patuhi? Alkitab ataukah pendeta itu yang mengaku mendapatkan perintah langsung? Dengan demikian, dasar pengajaran iman yang seharusnya berdasarkan Alkitab saja menjadi tidak pasti dan bersifat dinamis karena ada suatu perintah atau wahyu langsung dari Allah sendiri kepada pendeta. Betapa berbahaya dan rapuhnya dasar pengajaran iman Kristen jadinya jika kita membiarkan hal ini terjadi!!

Kedua, pendeta itu mengaku sumber perintah atau wahyunya dari Allah langsung. Dengan demikian, klaim tersebut sama kualitasnya dengan Alkitab yang juga dari Allah langsung dan menjadi sumber pengajaran iman Kristen, bukan? Karena wahyu baru tersebut bersumber dari Allah langsung, secara otomatis akan menjadi sumber pengajaran iman Kristen juga; sama dengan Alkitab. Nah, apakah dengan demikian kita akan menambahkan wahyu-wahyu baru ke dalam Alkitab? Saya rasa jika kita menerima wahyu-wahyu baru maka suatu hari jumlah buku yang berada di dalam Alkitab menjadi tak terbatas, tidak lagi berjumlah 66 buku. Mungkin menjadi ratusan bahkan ribuan, bukan? Apakah hal ini terdengar masuk akal?

Ketiga, jika kita ingin menambah suatu wahyu maupun nubuatan baru, bagaimana dengan tulisan rasul Yohanes di Wahyu 22:18-19: 

18Aku bersaksi kepada setiap orang yang mendengar perkataan-perkataan nubuat dari kitab ini: "Jika seorang menambahkan sesuatu kepada perkataan-perkataan ini, maka Allah akan menambahkan kepadanya malapetaka-malapetaka yang tertulis di dalam kitab ini. 19  Dan jikalau seorang mengurangkan sesuatu dari perkataan-perkataan dari kitab nubuat ini, maka Allah akan mengambil bagiannya dari pohon kehidupan dan dari kota kudus, seperti yang tertulis di dalam kitab ini."

Pemahaman saya adalah demikian: Kitab pertama dari Alkitab adalah kitab Kejadian yang menceritakan banyak tentang sejarah, nabi-nabi dan lain-lain. Dan kitab terakhir adalah kitab Wahyu yang menubuatkan hal-hal di masa depan yang belum terjadi. Rasul Yohanes telah memperingati bahwa kita tidak boleh menambahi ataupun mengurangi perkataan-perkataan dari kitab nubuat ini (jelas maksudnya adalah kitab Wahyu). Nah, bukankah dengan adanya wahyu dan nubuatan baru berarti kita menambahkan di atas kitab Wahyu yang ditulis oleh Yohanes?

Bagaimanakah kita menyikapi hal ini?

Saya tidak ingin menuduh pendeta X itu berdusta atau ada motivasi-motivasi tertentu. Mungkin saja pendeta X untuk mendengar suatu suara yang diyakininya sebagai suara atau penampakan dari Tuhan Yesus. Tetapi yang menjadi dasar pegangan kita sebagai orang Kristen adalah Alkitab. Nah, Alkitab memberikan jawaban yang bijaksana menyelesaikan kasus ini yaitu agar kita tidak mudah mempercayai setiap roh, tetapi ujilah roh-roh itu sesuai dengan 1 Yoh. 4:1:

Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah percaya akan setiap roh, tetapi ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Allah; sebab banyak nabi-nabi palsu yang telah muncul dan pergi ke seluruh dunia.

Nah, jika rasul Yohanes meminta kita untuk menguji, ya kita harus mengujinya. Bagaimana kita menguji wahyu dan nubuatan baru tersebut? Sederhana, karena Alkitab jelas mengatakan sumbernya dari Allah (2 Tim. 3:16) dan pendeta itu juga mengaku wahyunya dari Allah yang sama yang mengilhamkan para nabi dan rasul dalam menulis Alkitab maka seharusnya wahyu ataupun nubuatan baru itu isinya selaras dengan Alkitab atau  isinya tidak bertentangan dengan isi Alkitab. Jika wahyu baru itu bertentangan, maka jelas wahyu baru itu bukanlah dari Allah yang sama yang mengilhamkan Alkitab. 

Bagi organisasi Lembaga Menara Pengawal, saya telah mengujinya di blog ini; faktanya tidak lulus ujian. Silahkan pembaca mengklik artikel-artikel terkait yang begitu limpah membongkar fakta ajaran Menara Pengawal yang berlawanan dengan Alkitab.

Sedangkan bagi pendeta X itu. Kita akan mengujinya di dalam posting saya berikutnya yaitu tanggal 12/1/2012. Sementara itu, Saudara dapat merenungkan baik-baik kutipan berikut yang bersumber dari brosur yang sama:
Tuhan Yesus menginjili dan menjumpai ibu saya (ibu Y). Ibu saya bersaksi, saat berdoa dan berpuasa 7 hari 7 malam, tidak makan dan minum, Tuhan Yesus datang menjumpai ibu saya dan berkata: "Aku bukan nabi, Akulah Yesus Kristus Tuhan Allahmu yang empunya Kerajaan Sorga."...  

Nah, dari beberapa kalimat Tuhan Yesus yaitu "Aku bukan nabi, Akulah Yesus Kristus Tuhan Allahmu yang empunya Kerajaan Sorga" akan menjadi ujian, apakah benar perkataan Yesus tersebut sesuai dengan isi Alkitab atau bukan. Sementara itu, jika ada pembaca blog ini yang ingin memberi komentar atas perkataan Tuhan Yesus tersebut; apakah sesuai dengan Alkitab atau tidak, silahkan berkomentar. Kita bahas bersama sehingga hal ini dapat mencerdaskan pemahaman dan pengertian kita atas Alkitab.




Banyak nabi-nabi palsu yang telah muncul dan pergi ke seluruh dunia (1 Yoh. 4:1)


[1] Untuk alasan-alasan tertentu, nama pendeta dan gereja hanya saya ubah menjadi initial X.

No comments :

Post a Comment

Tolong SEBUTKAN Nama Atau Initial Anda saat memberi komentar agar memudahkan Mitra diskusi Anda mengidentifikasikan Anda.

Non Kristiani, mohon tidak memberi komentar.

Jika Anda ingin komentar, silahkan klik DI SINI DULU

.